Teks foto: Flayer Pemberitahuan untuk warga Sangasanga (Istimewa)
okeborneo.com,KUTAI KARTANEGARA– Warga di Kecamatan Sanga-Sanga, Kutai Kartanegara (Kukar), diminta tidak mengonsumsi air Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Mahakam akibat kualitas air yang mulai terasa asin. Kondisi tersebut terjadi setelah kemarau berkepanjangan memicu masuknya air asin.
Lurah Pendingin, Kecamatan Sanga-Sanga, Rahmat Hidayat mengatakan, imbauan kepada warga untuk tidak mengonsumsi air PDAM telah disampaikan sejak sekitar tiga hari terakhir.
Menurutnya, air PDAM untuk sementara hanya diperbolehkan digunakan untuk kebutuhan mandi, MCK, serta mencuci pakaian.
“Terhitung tiga hari yang lalu sudah ada imbauan. Untuk mandi, MCK, paling buat cuci-cuci baju, itu saja,” kata Rahmat.
Rahmat menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi kemarau yang membuat debit air berkurang sehingga air laut mulai masuk dan menyebabkan air menjadi asin.
“Memang keadaan alamnya kemarau. Kalau kemarau kan otomatis airnya asin,” ujarnya.
Ia menyebut, kondisi air PDAM di wilayah Pendingin saat ini masih mengalir. Namun, sebelumnya pihak PDAM sempat melakukan penghentian distribusi selama beberapa jam sebelum kembali dialirkan.
“Kalau kemarin sempat dari pihak PDAM mematikan beberapa jam, nanti hidup kembali, nanti mati lagi,” jelasnya.
Untuk saat ini, distribusi air kembali berjalan dengan penggunaan yang dibatasi untuk kebutuhan nonkonsumsi. Rahmat mengatakan, kondisi air yang mengalir di wilayah Pendingin saat ini tampak berwarna kebiruan dan tidak keruh kecokelatan.
Sementara itu, terkait usaha air galon, Rahmat menyebut sebagian pelaku usaha menggunakan sumber air dari sumur bor sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada distribusi PDAM.
Di sisi lain, kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kelurahan Pendingin juga mulai menunjukkan penurunan. Rahmat mengatakan, saat ini diperkirakan masih terdapat sekitar lima hingga enam titik api.
“Kalau saat ini titik api sudah mulai kurang, paling tinggal lima sampai enam titik saja. Kalau kemarin sudah puluhan titik, khusus di area Pendingin,” ungkapnya.
Meski titik api berkurang, dampak asap terhadap kesehatan warga masih dirasakan. Rahmat menyebut terdapat warga yang mengalami batuk dan pilek, meski sejauh ini belum tergolong berat.
“Potensinya ada yang batuk pilek. Cuma tidak terlalu berat, termasuk saya sendiri, karena sudah 23 hari keadaan asapnya itu,” katanya.
Untuk penanganan dampak asap, pembagian masker masih dilakukan secara rutin. Bantuan masker disebut datang dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah provinsi, hingga bantuan dari Jakarta.
Sementara untuk obat-obatan, belum ada pembagian khusus. Namun, pihak puskesmas disebut tetap bersiaga untuk memberikan pelayanan kepada warga.
Rahmat memastikan hingga kini belum ada warga yang harus menjalani perawatan di puskesmas maupun rumah sakit akibat Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Kondisi kabut asap di Pendingin juga mulai membaik seiring berkurangnya titik api. Sebelumnya, jarak pandang warga sempat sangat terbatas akibat pekatnya asap.
“Kalau kemarin-kemarin, jarak pandangan paling 20 meter, 10 sampai 20 meter. Sekarang kabutnya sudah kurang karena potensi titik apinya sudah mulai berkurang,” tuturnya.
Meski kondisi mulai membaik, personel dan tim pemadam masih disiagakan di wilayah tersebut. Unsur dari kabupaten, provinsi, TNI, dan Polri masih berada di lokasi untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.
Rahmat menyebut kondisi karhutla dan asap di wilayah Pendingin telah berlangsung hampir sebulan. Hingga kini, hujan yang diharapkan dapat membantu memadamkan titik api belum kunjung turun.
“Mendungnya hari-hari, Bu. Hujannya yang tidak ada. Mendung saja, hujannya yang tidak ada,” pungkasnya.(atr)









