okeborneo.com,KUTAI KARTANEGARA – Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Aulia Rahman Basri bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kukar melaksanakan ziarah ke makam para raja dan sultan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura di kawasan Museum Mulawarman, Tenggarong.
Ziarah tersebut menjadi salah satu rangkaian dalam pelaksanaan Erau Adat Kutai 2026. Selain menjadi bagian dari prosesi adat, kegiatan ini dimaknai sebagai momentum untuk mengenang perjalanan sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara sekaligus merefleksikan nilai-nilai yang dapat menjadi pijakan dalam pembangunan daerah.
Aulia mengatakan, ziarah makam juga menjadi pengingat bahwa Kota Tenggarong memiliki perjalanan sejarah panjang sebelum berkembang seperti saat ini.
“Hari ini kita melaksanakan acara ziarah makam pendiri Kota Tenggarong, Sultan Aji Imbut, dan ziarah makam para raja di makam Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura,” ujar Aulia.
Ia menjelaskan, salah satu bagian penting dalam sejarah Tenggarong adalah perpindahan pusat pemerintahan yang dilakukan Sultan Aji Imbut dari Pemarangan ke Tepian Pandan.
Wilayah Tepian Pandan kemudian dikenal dengan nama Tangga Arung atau rumah raja, yang dalam perkembangannya menjadi Tenggarong.
Menurut Aulia, perpindahan tersebut memberikan pelajaran penting mengenai keberanian melakukan perubahan demi mendapatkan kondisi yang lebih baik.
“Kedua, pelajaran yang bisa kita ambil adalah hijrah atau perpindahan itu menjadi suatu keniscayaan untuk sesuatu yang lebih baik,” katanya.
Aulia menuturkan, kondisi Pemarangan kala itu dinilai sudah tidak kondusif, terutama setelah terjadi pemberontakan. Sultan Aji Imbut yang sebelumnya dibesarkan oleh kakeknya, Lamadukelleng, di Wajo, kemudian kembali untuk mengambil kembali takhta yang telah diambil alih.
Bagi Aulia, kisah tersebut tidak hanya penting untuk diketahui sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga menjadi refleksi bagi generasi saat ini dalam menjalankan pembangunan.
“Sebagai generasi penerus hari ini, kita memandang ziarah ini bukan hanya sebagai sebuah perjalanan sejarah, tetapi juga merupakan suatu refleksi. Ini merupakan suatu bekal bagi kami dalam membangun Kabupaten Kutai Kartanegara,” ungkapnya.
Tenggarong dan Identitas Kota Raja
Lebih lanjut, Aulia berharap identitas Tenggarong sebagai kota yang memiliki sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara tetap terjaga.
Ia juga menekankan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam sejarah Kesultanan dapat diterapkan dalam kehidupan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat.
“Kita berharap Tenggarong ini tetap menjadi kotanya para raja-raja. Kita memperlakukan seluruh warga masyarakat yang ada di Kabupaten Kutai Kartanegara ini layaknya raja,” ucapnya.
Menurut Aulia, semangat tersebut sejalan dengan tema Erau Adat Kutai 2026, yakni “Raja Menjamu Rakyatnya.”
Ia berharap pelaksanaan Erau dapat terus dijaga konsistensinya dari tahun ke tahun. Pada 2027 mendatang, kegiatan tersebut diharapkan dapat dikemas lebih semarak dan meriah, namun tetap mempertahankan nilai adat serta kesakralannya.
“Mudah-mudahan kegiatan Erau bisa kita jaga konsistensinya. Di tahun 2027, kita bisa melaksanakan lebih semarak, lebih meriah lagi, dan tentunya tanpa meninggalkan nilai sakralitas yang dimiliki oleh Erau itu sendiri,” pungkasnya. (adv/diskominfokukar/atr)










