okeborneo.com,KUTAI KARTANEGARA– Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kutai Kartanegara (Kukar) mendorong penguatan sistem proteksi kebakaran di kawasan permukiman melalui penyediaan hidran. Langkah ini dinilai penting untuk mempercepat pengisian ulang armada pemadam saat terjadi kebakaran.
Kepala Disdamkarmatan Kukar, Fida Hurasani, mengatakan kebutuhan hidran di kawasan permukiman tidak dapat ditangani oleh pihaknya sendiri. Perencanaan dan pembangunan sistem tersebut membutuhkan keterlibatan sejumlah perangkat daerah serta instansi terkait.
“Kalau berkenaan dengan sistem hidranisasi di kawasan permukiman, dia bisa merencanakan. Tapi ujung daripada eksekutor daripada perencanaan pola itu kembali kepada pimpinan di atas dan instansi terkait lainnya,” kata Fida.
Menurutnya, pihak yang dapat terlibat antara lain Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim), Dinas Pekerjaan Umum (PU), hingga Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), khususnya jika sistem hidran terhubung dengan jaringan air bersih.
Sementara itu, Disdamkarmatan Kukar telah menjalankan sistem hidran kering sebagai salah satu upaya yang dapat dilakukan secara mandiri. Hidran tersebut berfungsi sebagai titik pengisian ulang air bagi armada pemadam sehingga petugas tidak harus menempuh jarak yang terlalu jauh untuk mendapatkan pasokan air.
Fida menyebut salah satu hidran kering yang telah dibangun memiliki panjang jaringan hampir satu kilometer hingga kawasan Simpang Tiga Kartini. Berdasarkan evaluasi, hidran tersebut dapat berfungsi sesuai dengan perencanaan.
Namun, sistem tersebut masih memiliki keterbatasan karena hanya mengarah pada titik tertentu. Kondisi itu menjadi kendala ketika kebakaran terjadi di wilayah yang berada di luar jangkauan titik pengisian.
“Untuk menuju wilayah tengah, wilayah saya di Kelambu Kuning, saya harus mengantri untuk mengisi. Artinya butuh waktu 10-15-20 menit. Nah, itu yang terjadi kemarin,” ujarnya.
Kondisi tersebut, lanjut Fida, terlihat dalam penanganan kebakaran beberapa waktu lalu. Dalam kurun sekitar 30 menit, petugas harus menghabiskan tiga tangki dengan kapasitas masing-masing 6.000 liter, 14.000 liter, dan 10.000 liter.
Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan masih adanya titik lemah dalam penanganan kebakaran, terutama berkaitan dengan ketersediaan sumber air. Karena itu, penguatan sistem hidran di kawasan permukiman dinilai perlu menjadi bagian dari perencanaan proteksi kebakaran.
Fida menjelaskan, penentuan lokasi hidran tidak cukup hanya berdasarkan kebutuhan suatu wilayah. Sistem tersebut juga harus mempertimbangkan sumber air, tekanan jaringan, serta mekanisme pengoperasiannya.
Jika menggunakan jaringan PDAM, misalnya, tekanan air harus disesuaikan dengan kemampuan jaringan. Tekanan yang terlalu tinggi dikhawatirkan justru berdampak pada jaringan distribusi air menuju rumah warga.
Karena itu, menurut Fida, sistem hidran yang ideal untuk proteksi kebakaran sebaiknya memiliki sistem pendorong atau sumber tekanan tersendiri. Namun, pembangunan sistem tersebut membutuhkan anggaran yang cukup besar.
Ke depan, Disdamkarmatan Kukar berencana mendorong perluasan hidran kering hingga masuk ke kawasan permukiman. Untuk merealisasikannya, Fida menyebut pihaknya membutuhkan kerja sama dengan pengurus RT dan masyarakat setempat.
“Ke depan kita mau hidran kering itu masuk di kawasan permukiman ini. Makanya saya butuh sebenarnya kerja sama dengan pihak RT setempat,” pungkasnya.(adv/diskomkukar/atr)










