Menu

Mode Gelap

Peristiwa · 3 Agu 2022 20:07 WITA

Petani Sumber Sari Keluhkan Pencemaran Lingkungan yang Disebabkan Tambang Ilegal


Petani Sumber Sari Keluhkan Pencemaran Lingkungan yang Disebabkan Tambang Ilegal Perbesar

okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Tidak hanya kelompok masyarakat saja yang tergabung dalam aksi penolakan tambang ilegal yang terjadi di perbatasan Desa Sumber dan Desa Loh Sumber. Namun, ada beberapa perwakilan dari kelompok petani yang ikut menyuarakan penolakan tersebut.

Dengan adanya aktivitas pertambangan ilegal ini akan berdampak kepada beberapa wilayah yang ada disekitar yakni, Desa Sumber Sari, Desa Ponoragan, dan Desa Sepakat. Diketahui, ada sekitar 1.500 hektare untuk lahan basah/persawahan yang akan terdampak langsung oleh tambang ilegal.

Oleh karena itu pihaknya menolak langsung aktivitas pertambangan ilegal, karena banyak disini masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian.

Salah satu petani asal Desa Sumber Sari, Hariano mengungkapkan, saat ini sudah ada beberapa petani yang terdampak dari pencemaran yang ditimbulkan dari aktivitas tambang ilegal, beberapa aliran air yang mengalir menuju persawahan sudah berubah warnanya menjadi keruh.

“Kemarin itu kami berkebun pun sudah terasa dampaknya kami mau menyiram tanaman air sudah sangat keruh, untungnya pada saat itu terbantu adanya air hujan yang turun jadi air yang keruh itu berubah menjadi jernih,” ungkap Hariano.

Ia mengatakan, saat melakukan penyisiran pihaknya menemukan sebuah parit yang terhubung langsung ke sungai pelai dan itu langsung tersambung ke salah satu waduk yang biasa digunakan petani untuk mengairi area persawahan.

“Waduk itu sampai ke wilayah Ponoragan, terus yang jelas imbasnya bukan di Desa Sumber Sari saja. Kalau diteruskan ya semuanya bakal kena dampak,” ungkapnya.

Tentunya dengan pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh penambangan ini bakal berdampak ke sektor pertanian itu sendiri, dirinya berkeinginan penutupan lokasi tambang tersebut harus segera terlaksana. Karena beberapa petani mengeluhkan pada proses pengairan menjadi keruh.

“Tanaman yang kami siram pakai air keruh itu akan berdampak buruk terhadap tanaman, apabila penambangan ilegal belum juga ditutup tentunya akan berdampak pada perekonomian para petani,” tutupnya. (atr/ob1/ef)

Artikel ini telah dibaca 23 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Dugaan Keracunan MBG Sebulu, Satgas Siaga 24 Jam di Puskesmas

3 Agustus 2026 - 20:55 WITA

MBG Sebulu

Usai Santap MBG, 46 Orang di Sebulu Alami Pusing dan Sakit Perut

3 Agustus 2026 - 17:40 WITA

MBG Sebulu

Kebakaran di Jalan Belida Tenggarong Hanguskan Lima Bangunan, Pasokan Air Jadi Kendala

20 Juli 2026 - 23:31 WITA

kebakaran Jalan Belida Tenggarong

Tujuh Rumah Terbakar di Tenggarong, Tujuh Keluarga Kehilangan Tempat Tinggal

17 Juli 2026 - 11:39 WITA

kebakaran Tenggarong

Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran di Taman Kota Raja Tenggarong

25 Juni 2026 - 20:41 WITA

kebakaran taman kota raja

11 Santriwati Laporkan Dugaan Kekerasan Seksual, Polda Kaltim Diminta Pastikan Perlindungan Korban

4 Juni 2026 - 19:30 WITA

kekerasan seksual santriwati,
Trending di Peristiwa