okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) bertolak ke Kecamatan Loa Kulu, tepatnya di Desa Jembayan, Kamis (4/7/2024) pagi tadi. Kedatangan orang nomor satu di Kukar bertujuan untuk meresmikan sebuah bangunan baru yang nantinya dipakai untuk kegiatan Posyandu yang bernama Edelweis.
Dikatakan Bupati Edi Damansyah Program Revitalisasi Posyandu di Desa Jembayan, khususnya di RT 13, telah selesai dengan sukses, termasuk pembangunan Posyandu baru. Hari ini, berkumpul untuk menetapkan Desa Jembayan sebagai percontohan penanganan intervensi stunting.
Ia menyebut program ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, terutama dalam upaya mencegah dan menangani kasus stunting pada anak-anak.
“Langkah ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi kecamatan lain dalam menerapkan strategi intervensi stunting yang efektif,” kata Edi.
Edi juga mengungkapkan bahwa pendataan dan pengukuran serentak telah selesai pada tanggal 30 Juni lalu, gambaran data sudah tersedia. Dari hasil pendataan, terdapat 92 anak di Desa Jembayan yang masuk dalam kategori stunting. Selain itu, ditemukan juga beberapa anak dengan gizi yang kurang baik dan berat badan yang tidak naik.
“Untuk mengatasi masalah ini, kita akan melakukan intervensi selama 2 bulan, khususnya dengan memberikan makanan tambahan kepada anak-anak tersebut,” jelas Edi.
“Nantinya, intervensi akan disesuaikan dengan kategori dan kriteria masing-masing anak. Menu makanan tambahan akan diatur oleh kepala puskesmas yang ada di Kecamatan Loa Kulu, ” tambahnya.
Selain itu, Ia juga berpesan kepada para orang tua bahwa keberhasilan kegiatan intervensi ini sangat bergantung pada peran orang tua. Misalnya, ketika sudah menetapkan satu tempat dan sudah tiba waktunya pemeriksaan, anak-anak harus dibawa ke sana. Selain itu, setiap hari orang tua juga harus berupaya menjaga kesehatan anak-anak mereka di rumah.
“Faktor penentunya adalah orang tua, jadi saya minta kesadaran dan kerjasama dari semua orang tua. Ini sangat penting, karena kita tidak ingin anak-anak di Kukar mengalami gangguan perkembangan dan pertumbuhan yang dapat mempengaruhi kualitas hidup mereka di masa depan,” pinta Edi. (adv/prokomkukar/atr/ob1/ef)








