TEKS FOTO : Kepala Distanak Kukar, Rifani (Angga/okeborneo.com)
okeborneo.com,KUTAI KARTANEGARA – Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menyiapkan program pengembangan ayam petelur melalui anggaran perubahan 2026. Program ini diarahkan untuk memperkuat produksi telur lokal sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah.
Kepala Distanak Kukar, Rifani mengatakan, pengembangan ayam petelur menjadi salah satu program yang tetap didorong dalam anggaran perubahan. Selain itu, pemerintah daerah juga masih melanjutkan sejumlah kegiatan lain, termasuk pembangunan dan pengembangan infrastruktur irigasi.
Untuk program ayam petelur, terdapat beberapa kecamatan yang masuk dalam rencana pelaksanaan, yakni Kota Bangun, Muara Muntai, Kota Bangun Darat, Loa Janan, dan Loa Kulu.
“Distanak sendiri ada yang pasti kita tetap ke ayam petelur, irigasi dan lain sebagainya masih,” ujarnya, Selasa (3/11/2026).
Rifani menjelaskan, saat ini pihaknya masih melakukan perhitungan terkait jumlah ayam yang akan didistribusikan. Namun, terdapat perubahan skema pengadaan, yakni menggunakan ayam pullet atau ayam dara yang mendekati masa produksi, bukan anak ayam berumur sehari atau Day Old Chick (DOC).
Menurutnya, pemilihan ayam pullet dilakukan agar waktu menuju masa produksi telur menjadi lebih singkat. Dengan skema tersebut, ayam yang disalurkan diharapkan dapat mulai menghasilkan telur dalam beberapa bulan setelah pengadaan.
“Jadi kita akan pilihkan ayam bukan bibit, bukan DOC, tetapi pullet. Ada pergeseran seperti itu, sehingga nanti beberapa bulan ke depan sudah mulai bertelur,” jelasnya.
Ia menyebut, pilihan tersebut juga mempertimbangkan potensi pasar telur di Kukar. Selama ini, kebutuhan telur masyarakat masih banyak dipenuhi dari pasokan luar daerah.
Melalui pengembangan peternakan ayam petelur lokal, pemerintah daerah ingin menghadirkan sumber produksi yang lebih dekat dengan konsumen. Selain memperkuat ketersediaan pasokan, telur yang dihasilkan peternak lokal diharapkan memiliki tingkat kesegaran lebih baik karena distribusinya tidak membutuhkan perjalanan panjang.
“Pasarnya yang kita lihat, telur itu banyak didatangkan dari luar. Kelebihan kita nantinya, telur diproduksi secara lokal sehingga lebih segar. Itu yang menjadi pertimbangan kita,” tutup Rifani.(adv/diskomkukar/atr)










