Menu

Mode Gelap

Pos-pos Terbaru · 20 Jan 2026 19:28 WITA

Martabak Kareh Malabar Loa Tebu, Warisan Rasa India yang Bertahan Lebih 40 Tahun


Lapak Martabak Kareh Malabar India di Kelurahan Loa Tebu, Tenggarong, yang telah bertahan lebih dari 40 tahun. (Angga/okeborneo.com Perbesar

Lapak Martabak Kareh Malabar India di Kelurahan Loa Tebu, Tenggarong, yang telah bertahan lebih dari 40 tahun. (Angga/okeborneo.com

okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Pagi belum sepenuhnya terang ketika aroma rempah menyeruak dari sebuah lapak sederhana di Kelurahan Loa Tebu, Tenggarong, Kutai Kartanegara. Warga sekitar sudah hafal betul, di sinilah Martabak Kareh Malabar Haji Abdullah dijajakan, kuliner legendaris yang usianya nyaris setara dengan perjalanan hidup pelanggannya.

Muhidin, 53 tahun, berdiri sebagai penjaga warisan itu. Ia adalah anak pertama sekaligus penerus usaha Martabak Kareh Malabar Haji Abdullah, kuliner yang telah bertahan lebih dari 40 tahun dan kini memasuki generasi ketiga. Tangannya meracik adonan dan kuah kareh dengan ketelitian yang lahir dari kebiasaan panjang.

“Awalnya dari bapak kami, turun-temurun dari kakek saya,” kata Muhidin.

Dalam silsilah keluarganya mengalir darah India-Pakistan, asal-muasal resep yang hingga kini tak banyak berubah. Martabak kareh ini menggunakan resep autentik dari India, dengan racikan rempah yang sebagian masih didatangkan langsung dari sana.

Usaha ini tercatat sebagai yang pertama di Loa Tebu. Namun jejaknya pernah berpindah. Pada masa lalu, Martabak Kareh Malabar sempat berjualan di kawasan Tenggarong, tak jauh dari Kantor Satlantas. Dari sana, namanya pelan-pelan dikenal luas, melampaui batas kampung.

Tak sedikit tokoh pernah mencicipinya. Muhidin mengingat, Bupati Kutai Kartanegara kerap datang menikmati martabak kari India ini. Bahkan, wali kota dari daerah lain pun pernah menyempatkan singgah.

“Banyak yang datang karena penasaran dengan rasanya,” ujarnya.

Martabak Kareh Malabar berbeda dari martabak pada umumnya. Kuah karehnya kental, berwarna cokelat keemasan, sarat rempah, dan meninggalkan hangat yang bertahan lama di lidah. Ia bukan sekadar makanan, melainkan penanda perjumpaan budaya dan sejarah migrasi yang melebur di Tenggarong.

Lapak ini buka sejak pukul 07.00 dan tutup sekitar pukul 20.00 WITA. Pada masa jayanya, mereka bisa menjual sekitar 50 porsi per hari. Kini jumlah itu menurun, seiring makin banyaknya penjual martabak bermunculan di berbagai sudut kota.

Namun bagi Muhidin, bertahan bukan soal angka semata. Selama resep dijaga dan rasa tak berubah, Martabak Kareh Malabar Haji Abdullah akan terus hidup. Di Loa Tebu, ia bukan hanya kuliner legendaris, melainkan ingatan yang terus disajikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. (atr)

Artikel ini telah dibaca 80 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Jelang HUT ke-81 RI, Pemkab Kukar Mulai Gerakan Pembagian Bendera Merah Putih

10 Agustus 2026 - 15:17 WITA

pembagian bendera Merah Putih di Kukar

Kebakaran di Jalan Ruwan Tenggarong, Empat Bangunan Terbakar

8 Agustus 2026 - 15:10 WITA

kebakaran Jalan Ruwan Tenggarong

Museum Mulawarman Jadi Kanvas Digital, Legenda Putri Karang Melenu Tampil lewat Video Mapping

7 Agustus 2026 - 15:17 WITA

video mapping Putri Karang Melenu

11 Pengendara Ditindak, 12 Motor Ditahan dalam Penertiban Balap Liar di Poros Tenggarong–Samarinda

7 Agustus 2026 - 15:06 WITA

balap liar Tenggarong–Samarinda

Dua Orang Diselamatkan dari Sungai Mahakam di Tenggarong, Satu Sempat Tak Sadarkan Diri

6 Agustus 2026 - 22:53 WITA

penyelamatan di Sungai Mahakam Tenggarong

Savana Musiman di Danau Semayang Kembali Muncul, Wisatawan Berburu Sunset

6 Agustus 2026 - 15:09 WITA

savana musiman di Danau Semayang
Trending di Food & Travel