Menu

Mode Gelap

Pos-pos Terbaru · 21 Sep 2026 18:43 WITA

Posko Karhutla Tenggarong Ditetapkan, Penanganan dan Logistik Relawan Dipusatkan


Sekretaris BPBD Kukar, Aspianur Sandi (Angga/okeborneo.com) Perbesar

Sekretaris BPBD Kukar, Aspianur Sandi (Angga/okeborneo.com)

okebornoe.com,KUTAI KARTANEGARA– Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menetapkan posko penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Tenggarong. Posko tersebut disiapkan untuk memperkuat koordinasi relawan sekaligus mendukung penanganan karhutla secara terpadu.

Sekretaris BPBD Kukar, Aspianur Sandi, mengatakan penetapan posko merupakan inisiatif BPBD agar penanganan karhutla di wilayah Tenggarong dapat dilakukan secara lebih terkoordinasi.

“Kenapa hari ini dibentuk? Ini merupakan inisiasi dari kami supaya untuk penanganan di Tenggarong lebih terpadu,” kata Aspianur.

Menurutnya, posko tersebut tidak hanya menjadi tempat berkumpul para relawan. Posko juga difungsikan sebagai pusat pelayanan dan penyiapan kebutuhan logistik selama proses penanganan karhutla.

“Posko ini kita tetapkan tidak hanya untuk tempat berkumpul, tetapi juga untuk penyiapan bahan logistiknya nanti di sini. Jadi relawan setelah penanganan tidak repot-repot lagi mencari makan. Di tempat ini, nanti balik ke sini sudah disiapkan,” ujarnya.

Ia menyebut jangkauan pelayanan relawan tidak hanya terbatas di wilayah Kecamatan Tenggarong. Dalam pelaksanaannya, relawan dapat dikerahkan hingga wilayah Loa Tebu dan Kecamatan Loa Kulu sesuai kebutuhan penanganan di lapangan.

“Jadi seluruh relawan ini untuk pusatnya, untuk pelayanannya nanti bisa tidak hanya di Tenggarong, bisa nanti ke Loa Tebu sampai nanti ke Kecamatan Loa Kulu,” jelasnya.

Lokasi Dipilih karena Strategis

Aspianur menjelaskan, lokasi posko dipilih karena dinilai representatif dan strategis. Selain memiliki halaman yang cukup luas, lokasi tersebut sebelumnya juga menjadi tempat berkumpul sejumlah relawan.

“Kenapa tempat ini menjadi pusat atau posko Kecamatan Tenggarong? Karena di sini ada tempat yang representatif, lumayan halamannya luas dan memang kebanyakan relawan awalnya banyak yang berkumpul di sini,” katanya.

Penentuan lokasi dilakukan melalui koordinasi dengan pihak Kecamatan Tenggarong. Salah satu pertimbangannya adalah jarak dengan wilayah operasi relawan yang sebelumnya juga mencakup kawasan Loa Kulu.

“Karena mereka juga kemarin-kemarin bisa beroperasi di wilayah Loa Kulu. Jadi kalau kita taruh di tempat kita, di BPBD ataupun di Tenggarong Kota, terlalu jauh,” ujarnya.

Selain tempat berkumpul, posko akan dilengkapi fasilitas pendukung, termasuk dapur dan tenda. BPBD juga akan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan relawan secara berkala.

“Nanti secara berkala untuk rekan-rekan relawan kita lakukan pengecekan kesehatan, bekerja sama dengan Dinkes,” kata Aspianur.

Relawan Disiapkan dengan Sistem Piket

Aspianur menyebut posko relawan juga telah dibentuk di sejumlah kecamatan di Kukar. Namun, untuk Kecamatan Tenggarong, lokasi khusus dipilih agar aktivitas pemerintahan di kantor kecamatan tidak terganggu.

“Ini hampir semuanya di kecamatan terbentuk. Intinya semua kecamatan nanti rata-rata ada. Ada yang di kantor kecamatan,” ujarnya.

Untuk posko Tenggarong, relawan akan menjalankan sistem piket. Perwakilan relawan akan ditempatkan dalam setiap jadwal untuk memastikan posko tetap memiliki personel yang siap menerima dan meneruskan informasi penanganan karhutla.

“Dan mereka akan ditetapkan jam piketnya. Nanti dari piket pagi sampai sore, malam sampai siapa nanti. Setiap perwakilan relawan nanti katanya hanya dua-dua untuk piketnya,” jelasnya.

Hotspot Menurun, Karhutla Dekat Permukiman Jadi Prioritas

Di sisi lain, BPBD Kukar mencatat adanya penurunan jumlah titik panas dalam beberapa hari terakhir. Meski demikian, kondisi kabut asap masih menjadi perhatian karena tutupan awan di wilayah Kalimantan Timur turut memengaruhi kondisi di lapangan.

“Ketika Kaltim ditutup awan, mungkin rekan-rekan bisa merasakannya. Hotspot turun, cuma kabut asap tinggi,” kata Aspianur.

Ia mengatakan, dalam dua hingga tiga hari terakhir, pantauan hotspot berada di bawah 100 titik per hari. Sementara titik yang terindikasi menjadi kejadian kebakaran atau fire spot berada di bawah 10 kejadian.

“Alhamdulillah menurun. Memang prioritas kita sekarang adalah penanganan kebakaran itu yang mendekati permukiman. Itu yang menjadi prioritas kita,” tegasnya.

OMC Diperpanjang hingga 24 September

Upaya penanganan karhutla juga didukung melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Aspianur menyebut pelaksanaan OMC yang sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 19 September diperpanjang hingga 24 September 2026.

“OMC itu diperpanjang. Sebenarnya kemarin berakhir tanggal 19, akhirnya ini kita diperpanjang sampai tanggal 24,” ungkapnya.

Namun, pelaksanaan OMC masih bergantung pada potensi pertumbuhan awan. Ia berharap operasi tersebut dapat menghasilkan hujan di wilayah yang membutuhkan.

“Cuma potensi awan sekarang untuk dalam dua hari ini tidak ada. Besok mungkin baru ada OMC yang mudah-mudahan itu menjadi hujan,” katanya.

Aspianur mengatakan, pelaksanaan OMC selama empat hari sebelumnya menghasilkan hujan di wilayah hulu Berau. Namun, sebagian awan yang ditargetkan bergerak ke arah Pontianak.

Lahan Gambut Masih Menjadi Perhatian

BPBD Kukar masih memantau sejumlah kawasan yang dinilai rawan, terutama wilayah lahan gambut. Di antaranya kawasan cagar alam di Muara Kaman dan wilayah Muara Jawa yang berada di sekitar jalur pipa minyak Pertamina.

“Banyaknya seputar lahan. Gambut-gambut,” ujarnya.

Ia menegaskan lokasi yang saat ini dipantau bukan merupakan titik api baru, melainkan lokasi yang menjadi perhatian dalam pemantauan karhutla.

“Ini bukan titik api baru, ini lokasi terbaru. Kalau titik terbaru, enggak ada,” katanya.

Sementara itu, penanganan karhutla di Muara Badak disebut telah dituntaskan. Meski demikian, BPBD masih menemukan beberapa titik yang perlu dipantau di Desa Badak Baru dan kawasan Tanjung Limau yang berbatasan dengan Kecamatan Marangkayu.

Kelalaian Masyarakat Diduga Jadi Salah Satu Penyebab

Terkait dugaan penyebab munculnya sejumlah titik api, Aspianur menyebut aktivitas masyarakat yang tidak dilakukan secara hati-hati dapat menjadi salah satu faktor.

“Nah, itu sebenarnya memang penyebabnya ya mungkin kegiatan-kegiatan masyarakat yang abai atau yang lalai,” pungkasnya.(atr)

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Bupati Kukar Tinjau Posko Karhutla Tenggarong, Relawan Terima Bantuan

21 September 2026 - 18:41 WITA

Dari Tepian Mahakam, Hetifah: Erau Mengingatkan Kita Siapa Kita

21 September 2026 - 13:51 WITA

Dibuka Hari Ini, Erau Adat Kutai 2026 Usung Tema “Raja Menjamu Rakyatnya”

20 September 2026 - 14:55 WITA

PKU Muhammadiyah Kukar Mulai Dibangun, Tahap Awal Fokus Satu Lantai

19 September 2026 - 16:03 WITA

Pembukaan Erau 2026 Tetap Digelar, Pemkab Kukar Antisipasi Dampak Asap

19 September 2026 - 16:01 WITA

Pelantikan 58 Pejabat Kukar Dipercepat, Camat Diminta Gerak Cepat Tangani Karhutla dan Krisis Air

18 September 2026 - 19:39 WITA

Trending di Home