okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Sebanyak 105 pedagang tercatat mengikuti Pasar Ramadan tahun ini di Kecamatan Tenggarong. Seluruhnya berada di bawah koordinasi kecamatan dan dipusatkan di kawasan Tenggarong Heritage Square.
Camat Tenggarong, Syukur Eko, mengatakan para pedagang menjajakan beragam menu berbuka puasa, mulai dari takjil, makanan ringan, hingga makanan berat. Seluruh sajian telah disesuaikan dengan standar makanan untuk berbuka.
“Untuk data yang tercatat di kecamatan, jumlah pedagang ada sebanyak 105 orang. Mereka merupakan gabungan dari penjual yang sebelumnya tersebar di berbagai titik di wilayah Tenggarong, kemudian disatukan di satu lokasi,” ujarnya.
Menurutnya, pemusatan lokasi ini bertujuan memudahkan masyarakat dalam mencari kebutuhan berbuka puasa sekaligus mengurangi potensi kemacetan yang kerap terjadi saat Ramadan. Pada tahun-tahun sebelumnya, pedagang takjil tersebar di sejumlah ruas jalan sehingga menimbulkan kepadatan lalu lintas.
“Dengan dipusatkan di satu kawasan, arus lalu lintas bisa lebih terkendali. Selain itu, kawasan Tenggarong Heritage Square juga menjadi lebih hidup dan ramai dikunjungi,” tambahnya.
Ia berharap, kehadiran Pasar Ramadan tidak hanya berdampak pada peningkatan penjualan takjil, tetapi juga menggerakkan sektor lain, seperti penjualan pakaian dan perlengkapan ibadah di sekitar kawasan tersebut.
Sementara itu, secara keseluruhan jumlah tenant di kawasan Tenggarong Heritage Square mencapai sekitar 150 lapak. Dari jumlah tersebut, 105 pedagang berada di bawah koordinasi kecamatan, sedangkan sisanya mendaftar langsung melalui pihak pengelola kawasan.
Terkait biaya sewa, Kepala Seksi Ketenteraman dan Ketertiban (Kasi Trantib) Kecamatan Tenggarong, Aji Sultan, menjelaskan bahwa tarif sewa untuk pedagang di bawah koordinasi kecamatan ditetapkan sebesar Rp1,2 juta per lapak.
“Angka ini merupakan hasil kesepakatan terakhir dalam rapat bersama. Sempat ada perubahan dalam pembahasan sebelumnya, namun akhirnya disepakati kembali di angka Rp1,2 juta untuk 105 pedagang yang terdata di kecamatan,” jelasnya.
Adapun pedagang yang mendaftar langsung melalui pengelola kawasan kemungkinan memiliki ketentuan sewa yang berbeda.
Mengenai lokasi penyelenggaraan, Syukur Eko menyebut Pasar Ramadan ke depan masih akan dievaluasi. Namun, untuk saat ini pelaksanaannya dipastikan tetap berlangsung di Tenggarong Heritage Square karena dinilai strategis dan representatif.
“Pertimbangannya, keramaian bisa terpusat di satu lokasi, parkir lebih nyaman, dan kemacetan bisa ditekan. Selain itu, retribusi parkir juga bisa memberikan kontribusi bagi pendapatan daerah,” pungkasnya.
Ia berharap Pasar Ramadan tahun ini benar-benar memberikan manfaat bagi pedagang, masyarakat, maupun pemerintah daerah. (atr)








