Menu ✖

Mode Gelap

Pos-pos Terbaru · 19 Mar 2026 08:34 WITA

Pawai Ogoh-Ogoh Tenggarong di Tengah Ramadan Tampilkan Toleransi Antarumat Kukar


 Umat Hindu mengarak ogoh-ogoh saat pawai melintasi Jalan Stadion, Tenggarong, Rabu (18/3/2026) malam. (Angga/okeborneo.com) Perbesar

Umat Hindu mengarak ogoh-ogoh saat pawai melintasi Jalan Stadion, Tenggarong, Rabu (18/3/2026) malam. (Angga/okeborneo.com)

okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Suasana malam di Kelurahan Loa Ipuh, Tenggarong, tampak berbeda pada Rabu (18/3/2026). Iringan musik gamelan berpadu dengan antusiasme warga yang memadati ruas jalan untuk menyaksikan pawai ogoh-ogoh, tradisi khas umat Hindu dalam rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948.

Meski berlangsung di tengah bulan suci Ramadan, kegiatan ini justru menjadi cerminan kuatnya kerukunan antarumat beragama di Kutai Kartanegara (Kukar). Masyarakat dari berbagai latar belakang terlihat berbaur, menikmati jalannya arak-arakan dengan penuh kebersamaan.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kukar, I Nyoman Surada, menyampaikan bahwa pawai ogoh-ogoh merupakan bagian dari rangkaian ritual Nyepi yang telah dimulai sejak prosesi Melasti hingga Tawur Kesanga.

“Sejak kemarin kami sudah melaksanakan Melasti, lalu pagi tadi Tawur Kesanga, dan malam ini ditutup dengan pawai ogoh-ogoh,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, pawai dimulai dari Wantilan Pura Payogan Agung Kutai di Jalan Gunung Sedayu. Rombongan kemudian melintasi sejumlah ruas jalan, seperti Jalan Sangkuriang I, Jalan Stadion Rondong Demang, Jalan Selendreng, Jalan Mayjen Panjaitan, hingga Jalan Loa Ipuh sebelum kembali ke titik awal.

“Jarak tempuhnya sekitar tiga sampai lima kilometer. Kami berharap masyarakat bisa ikut menyaksikan dan merasakan suasana kebersamaan ini,” ujarnya.

Sekitar 100 umat Hindu terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Namun, dengan kehadiran warga yang turut meramaikan, jumlah peserta diperkirakan mencapai 150 hingga 200 orang.

Lebih dari sekadar pertunjukan budaya, ogoh-ogoh memiliki makna filosofis yang mendalam. Bentuknya yang menyeramkan merepresentasikan sifat-sifat negatif manusia yang harus disucikan.

“Ogoh-ogoh ini melambangkan hal-hal buruk seperti keserakahan dan amarah. Melalui ritual ini, kami berharap energi negatif tersebut dapat dinetralisir demi menjaga keseimbangan alam,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa pelaksanaan kegiatan tetap memperhatikan situasi Ramadan. Pihaknya berupaya menjaga ketertiban serta menghormati umat Muslim yang tengah menjalankan ibadah puasa.

“Kami ingin kegiatan ini tetap berjalan dengan penuh rasa hormat dan toleransi. Ini bukan hanya tradisi keagamaan, tapi juga bentuk hiburan yang mempererat kebersamaan masyarakat,” tuturnya.

Pawai ogoh-ogoh di Tenggarong sendiri menjadi agenda tahunan yang selalu dinanti. Setelah rangkaian ini, umat Hindu akan memasuki Hari Raya Nyepi, yang dijalankan dengan suasana hening sebagai momen introspeksi diri dan penyucian alam. (atr)

Artikel ini telah dibaca 45 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Sekda Kukar Dorong Kolaborasi Korpri dan PWRI, Pensiunan ASN Tetap Aktif di Masyarakat

29 Oktober 2026 - 17:48 WITA

Sunggono Tekankan Peningkatan Pelayanan dan Kesejahteraan Anggota KORPRI Kukar

29 Oktober 2026 - 13:43 WITA

Maknai Sumpah Pemuda, Ahmad Yani Ajak Generasi Muda Bersatu Bangun Kukar

29 Oktober 2026 - 13:40 WITA

Kukar Idaman Terbaik Siapkan Skema Pembangunan Terpadu Rp100 Miliar per Kawasan Perdesaan

29 Oktober 2026 - 13:37 WITA

Ahmad Yani Soroti Antrean BBM di Kukar, Dugaan Penyimpangan Distribusi Bakal Dievaluasi

29 Oktober 2026 - 13:34 WITA

Etam Sejahtera Kukar Salurkan Bantuan Rp6,5 Miliar untuk 2.197 Santri Pesantren

29 Oktober 2026 - 13:30 WITA

Trending di Advertorial