Menu ✖

Mode Gelap

Pemerintahan · 27 Apr 2026 21:01 WITA

Warga Samboja Barat Resah, Penertiban Tahura Bukit Soeharto Belum Jelas


Suasana Rapat Dengar Pendapat (RDP) gabungan Komisi I, II, dan III DPRD Kukar membahas rencana penertiban kawasan Tahura Bukit Soeharto yang memicu keresahan warga Samboja Barat. (Istimewa) Perbesar

Suasana Rapat Dengar Pendapat (RDP) gabungan Komisi I, II, dan III DPRD Kukar membahas rencana penertiban kawasan Tahura Bukit Soeharto yang memicu keresahan warga Samboja Barat. (Istimewa)

okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Rencana penertiban kawasan Tahura Bukit Soeharto memicu keresahan warga Samboja Barat, terutama di Kelurahan Sungai Merdeka dan Bukit Merdeka. Minimnya penjelasan terbuka dinilai membuat masyarakat belum mendapat kepastian soal nasib aktivitas, usaha, dan kehidupan ekonomi mereka di wilayah terdampak.

Camat Samboja Barat, Burhanuddin, mengatakan pemerintah kecamatan telah menerima berbagai aspirasi dari warga. Pihaknya berupaya menjembatani komunikasi antara masyarakat dengan pihak terkait agar persoalan ini tidak berkembang menjadi keresahan yang lebih luas.

“Kami menampung langsung keluhan warga dan terus berupaya membuka ruang dialog dengan pihak yang berwenang terkait persoalan ini,” kata Burhanuddin usai mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) gabungan Komisi I, II, dan III DPRD Kutai Kartanegara, Senin (27/4/2026).

Menurutnya, warga membutuhkan penjelasan yang utuh mengenai rencana penertiban tersebut. Kejelasan itu penting agar masyarakat memahami dasar kebijakan, batas wilayah terdampak, serta langkah penyelesaian yang akan diambil.

Pemerintah Kecamatan Samboja Barat, lanjut Burhanuddin, juga tengah menyiapkan tindak lanjut melalui pertemuan dengan pihak otorita serta Wakil Bupati Kukar. Pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Selasa (28/4/2026).

Pertemuan itu diharapkan dapat membuka ruang komunikasi yang lebih jelas antara pemerintah, otorita, dan warga terdampak. Dengan begitu, setiap keputusan yang diambil tidak hanya berpijak pada aspek penertiban kawasan, tetapi juga mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat.

Selain dampak sosial, Burhanuddin turut menyoroti aspek ekonomi di wilayah tersebut. Ia menyebut kawasan Tahu Sumedang selama ini memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan daerah, dengan nilai mencapai sekitar Rp1,5 miliar hingga Rp2 miliar setiap tahun.

Kontribusi itu, menurutnya, perlu menjadi salah satu pertimbangan dalam merumuskan kebijakan. Sebab, penertiban yang dilakukan tanpa penjelasan dan solusi dapat berdampak langsung pada pelaku usaha, pekerja, serta masyarakat yang menggantungkan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.

Burhanuddin berharap setiap kebijakan yang diambil tetap memperhatikan kepastian hukum, keberlanjutan ekonomi masyarakat, dan kondisi sosial warga di lapangan.

Penertiban kawasan konservasi dinilai tetap membutuhkan komunikasi terbuka, data yang jelas, dan ruang dialog agar tidak menimbulkan ketidakpastian baru bagi masyarakat Samboja Barat. (atr/bby)

Artikel ini telah dibaca 28 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Bupati Kukar Ajak Generasi Muda Lestarikan Tradisi Beseprah

24 September 2026 - 15:03 WITA

Beseprah Erau 2026, Bupati Kukar Ingin Tradisi Makan Bersama Lebih Dekat dengan Rakyat

24 September 2026 - 12:14 WITA

Anggota VI BPK RI Fathan Subchi Diberi Gelar Pangeran Kelana Panji Wira oleh Kesultanan Kutai

24 September 2026 - 10:45 WITA

Aulia Dukung Pengalihan PPPK Paruh Waktu, Soroti Kepastian Anggaran Gaji

23 September 2026 - 21:38 WITA

Utang Rp820 Miliar ke Bankaltimtara Lunas, Pemkab Kukar Fokus Penataan Administrasi

23 September 2026 - 21:12 WITA

Target Kunjungan Erau 2026 Naik 100 Persen, Dispar Kukar Andalkan Ragam Agenda

23 September 2026 - 17:55 WITA

Trending di Advertorial