okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Planete Urgance (PU) Indonesia berkolaborasi dengan Yayasan Mangrove Lestari (YML) dan kelompok petani tambak Salo Sumbala melanjutkan program penanaman mangrove di Kawasan tambak Solo Sumbala, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Kawasan tersebut merupakan bagian dari landskap Delta Mahakam Kegiatan penanaman mangrove di kawasan tambak merupakan praktik silvofishery, yaitu perpaduan antara silvo (mangrove/bakau) dengan fishery (perikanan), sehingga terwujudlah tambak yang ramah lingkungan.
Ketua Kelompok Petani tambak Salo Sumbala, Ramlan, menjelaskan bahwa teknik silvofishery yang diterapkan di wilayahnya sangat berdampak pada keberhasilan hasil panen. Menurut Ramlan, mangrove di dalam tambak berfungsi sebagai penyedia makanan alami bagi udang, kepiting maupun ekosistem tambak lainnya. Dirinya menambahkan bahwa hasil tambaknya bisa meningkat sampai 30-40% sejak dia dan kelompoknya konsisten menerapkan praktik tambak ramah lingkungan tersebut.
“Akar-akar mangrove itu tempatnya sumber makanan bagi ekosistem tambak. Jadi, tambak yang tidak ada pohon mangrovenya boleh dikatakan lebih tandus, tidak subur, tidak bisa menghasilkan banyak sumber makanan,” tutur Ramlan.
PU Indonesia bersama YML menargetkan 30 Ribu pohon mangrove yang ditanam di kawasan tambak milik kelompok Salo Sumbala, tepatnya di Pulau Letung. Selain untuk mendukung para petani tambak, penanaman mangrove di kawasan tersebut dilakukan sebagai wujud pemulihan ekosistem mangrove yang mulai terdegradasi.
“Tidak hanya fokus pada penanaman di lahan tambak, restorasi mangrove juga dilakukan di Kawasan pesisir pantai desa Tanjung Limau, Muara Badak Total ada 40.000 bibit yang ditanam di pesisir,” katanya.
Sementara itu, Direktur YML, Achmad Nuriyawan menjelaskan bahwa mangrove pesisir akan sangat berguna untuk menahan abrasi akibat tekanan gelombang. “Kami menjalankan kegiatan penanaman mangrove ini Bersama Planete Urgence untuk menyelamatkan lahan- lahan di Kawasan pesisir dan area kritis lainnya,” Jelas Achmad Nuriyawan.
Lebih lanjut, Direktur YML tersebut menjelaskan bahwa proses penghijauan mangrove akan membawa manfaat panjang, mangrove yang ditanam hari ini akan mampu menjadi pertahanan pesisir hingga lima belas tahun ke depan. Oleh karena itu, pegiat konservasi mangrove harus bersama-sama memikirkan strategi keberlanjutan hutan mangrove demi kepentingan bersama di masa mendatang.
“Bersama para pihak. PU Indonesia dan YML akan terus berkomitmen melestarikan ekosistem mangrove baik yang berada di pesisir maupun, lahan tambak dan area terdegradasi lainnya, ” pungkasnya. (atr/ob1/ef)










