Menu

Mode Gelap

Uncategorized · 5 Sep 2021 20:47 WITA

Banjir Samarinda Diduga Akibat Dampak Penambangan Batubara


Banjir Samarinda Diduga Akibat Dampak Penambangan Batubara Perbesar

okeborneo.com, SAMARINDA – Banjir yang melanda kawasan Samarinda Utara pada Jumat (3/9/2021) lalu menimbulkan tanda tanya. Bukan hanya karena dampak yang ditimbulkan lebih besar dari sebelumnya namun juga adanya batubara yang ikut terbawa banjir hingga di perkarangan dan kebun warga yang berada tepatnya di RT 33 kawasan Muang Dalam, Kelurahan Lempake.

Hal ini diduga akibat dari aktivitas pertambangan di kawasan Samarinda Utara yang menjadi hulu Bendungan Benanga menjadi salah satu penyebabnya. Dari penelusuran okeborneo.com sepanjang tepi Jalan Rejo Mulyo dan Ambalut, Muang Dalam tepatnya di kawasan RT 33 dan 47terdapat aktivitas pertambangan.

Warga yang enggan disebut namanya mengatakan jika ada empat pengelola pertambangan di kawasan Muang Dalam. Masing – masing dua berada di Jalan Rejo Mulyo dan di Jalan Ambalut telah berjalan sekitar tiga tahun terakhir ini.

“Beda orang beda bos, setiap lokasi beda-beda. Sebelumnya memang ada perusahaan besar tapi sudah pindah. Kalau ini kecil-kecilan, nggak tau juga perusahaan apa,” ucapnya.

Dijelaskannya mobilisasi batubara biasanya dilakukan pada malam hari. Melintasi Jalan Desa Budaya Pampang.
“Ngangkutnya ya lewat atas (Desa Budaya Pampang). Jalan (Rejo Mulyo) ini dulu ya jalan setapak aja tapi karena tambang jadi besar. Bagus saja, tapi ya dampaknya itu (banjir). Ya ada bagus dan jeleknya lah,” jelasnya.

Warga tersebut menduga aktivitas pertambangan ini menjadi salah satu faktor penyebab banjir yang semakin parah.

“Yah air sini kan asalnya juga dari atas, salah satunya dari Tanah Datar juga baru nanti ke bendungan dan kawasan bawah lain. Yah bener aja banjir di Muang Ilir itu, asalnya dari sini juga,” jelasnya.

Ketua RT 47, Jumain mengatakan jika tidak tahu menahu soal pertambangan yang berada di balik bukit yang tak jauh dari pemukiman.

“Saya nggak tau juga (perusahaan batu bara), nggak kenal juga. Soalnya kita RT ini nggak dikasih tau juga sih. Kalau masalah lamanya yang sekarang ini baru, yang lama itu sudah tutup,” ucapnya.

Saat disinggung soal tumpukan batubara di tepi Jalan Rejo Mulyo, Jumain menjelaskan sebelumnya memang ada truk pengangkut yang mengalami patah as roda. Sehingga, batu bara ditaruh di tepi jalan. Namun, dirinya tak mengetahui kapan dan dari mana asal emas hitam tersebut.

“Kurang tau juga dari kapan, kalau dari mananya mungkin juga dari tambang sekitar tapi nggak tau pasti,” ucapnya.

Diakuinya selama ini tak pernah mengadukan aktivitas pertambangan ke Kelurahan maupun Kecamatan. Termasuk mempertanyakan legalitas perusahaan disebabkan takut terlibat jauh terkait pertambangan dan disalahartikan warga.

“Nggak ada lapor, saya memang engga mau tau soal itu yang penting masyarakat engga ada komplain. Mungkin ada uang bising debunya, jadi masyarakat menikmati juga lah,” pungkasnya. (bdp/ob1/ef)

Artikel ini telah dibaca 101 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Kebakaran Jalan Pesut Kukar, Damkar Kerahkan Tujuh Unit dan Kuasai Api dalam 20 Menit

4 September 2026 - 21:47 WITA

Kasus ISPA di Kukar Melonjak, Tembus 9.075 Kasus Selama Agustus

4 September 2026 - 15:40 WITA

PJJ Mulai Diterapkan Hari Ini di Sejumlah Wilayah Kukar, Sekolah Diberi Fleksibilitas

3 September 2026 - 14:28 WITA

Kabut Asap Menyelimuti Kota Raja, Warga Tenggarong Cemas Aktivitas dan Kesehatan Terganggu

30 Agustus 2026 - 18:51 WITA

Kemarau Panjang Bikin Air PDAM di Sanga-Sanga Mulai Asin, Warga Diminta Tak Konsumsi

28 Agustus 2026 - 16:32 WITA

Kemarau Mulai Keringkan Sawah, Pemkab Kukar Usulkan Modifikasi Cuaca

27 Agustus 2026 - 15:27 WITA

Trending di Home