okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Untuk mengatasi dampak pasang surut air laut terhadap perkebunan kelapa di kawasan pesisir, Dinas Perkebunan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) membangun 21 pintu air sepanjang tahun 2024. Infrastruktur ini difokuskan di wilayah Muara Jawa dan Samboja, dengan total anggaran mencapai Rp882,5 juta.
Sekretaris Dinas Perkebunan Kukar, Muhammad Taufik Rahman, menyatakan bahwa pembangunan pintu air ini merupakan langkah strategis untuk mendukung keberlanjutan perkebunan kelapa. “Perubahan kondisi air laut di pesisir dapat merusak kualitas tanah dan mengganggu produktivitas kebun kelapa. Dengan adanya pintu air, kami berharap tantangan tersebut bisa diatasi,” ujar Taufik, Kamis (21/11/2024).
Pintu air tersebut dirancang dengan sistem otomatis yang mampu mengatur aliran air. Ketika air laut surut, pintu akan membuka untuk membuang air berlebih, dan menutup saat pasang untuk mencegah intrusi air laut. Sistem ini diharapkan dapat menjaga kondisi tanah tetap ideal untuk pertumbuhan kelapa di wilayah pesisir.
Selain itu, Taufik menekankan pentingnya normalisasi parit secara berkala agar aliran air tidak terganggu. Infrastruktur pintu air ini juga mempermudah para petani dalam mengangkut hasil panen mereka, terutama bagi yang menggunakan perahu kecil. “Inovasi ini memberikan manfaat besar bagi pengelolaan kebun kelapa,” tambahnya.
Muara Jawa dan Samboja dipilih sebagai lokasi prioritas karena dominasi area pesisirnya yang rentan terhadap fluktuasi air laut. Menurut Taufik, pembangunan ini juga merupakan respons atas permohonan masyarakat setempat yang menginginkan solusi untuk mengatasi masalah pengelolaan air di kebun mereka.
Tidak berhenti di tahun 2024, Dinas Perkebunan Kukar merencanakan penambahan pintu air di tahun mendatang. Taufik berharap upaya ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani kelapa di daerah pesisir sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
“Pengelolaan air yang baik adalah fondasi utama dalam mendukung pertanian di pesisir. Kami optimis, keberadaan pintu air ini akan berdampak signifikan terhadap hasil perkebunan dan kualitas hidup masyarakat setempat,” tutup Taufik. (adv/diskominfokukar/rl/ob1/ef)








