Menu

Mode Gelap

Advertorial · 6 Okt 2025 19:33 WITA

Kebakaran Lahan Gambut Kukar Jadi Ancaman Serius, DLHK Tegaskan Larangan Pembakaran


Sekretaris DLHK Kukar, Taufik, menjelaskan risiko kebakaran lahan gambut yang sulit dikendalikan. (Angga/okeborneo.com) Perbesar

Sekretaris DLHK Kukar, Taufik, menjelaskan risiko kebakaran lahan gambut yang sulit dikendalikan. (Angga/okeborneo.com)

okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA– Sekitar 30 persen wilayah Kutai Kartanegara berupa gambut. Angka itu membuat ancaman kebakaran lahan gambut Kukar menjadi tantangan serius yang butuh perhatian khusus.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kukar, Taufik, menjelaskan lahan gambut berbeda dengan tanah mineral. Saat terbakar, api tidak hanya muncul di permukaan, tetapi juga menjalar ke lapisan bawah tanah. Bara api di dalam tanah bisa bertahan lama meski api di permukaan padam.

“Lahan gambut ini sulit ditangani karena kebakarannya tidak langsung terlihat. Kadang api di permukaan sudah padam, tapi bara di dalamnya masih menyala,” ujar Taufik.

Kondisi ini membuat pemerintah daerah menegaskan larangan keras terhadap segala bentuk pembakaran di kawasan gambut. Risiko yang ditimbulkan terlalu besar, baik terhadap lingkungan maupun kesehatan masyarakat. Asap pekat dari kebakaran gambut membahayakan pernapasan dan merusak ekosistem jangka panjang.

DLHK Kukar kini gencar melakukan sosialisasi dan edukasi. Warga yang tinggal di sekitar gambut diajak memahami bahaya pembakaran terbuka. Taufik menekankan pentingnya pencegahan. Menurutnya, begitu api muncul di gambut, proses pemadaman membutuhkan waktu lama serta biaya besar.

“Yang paling penting adalah membangun kesadaran bersama. Jangan ada lagi praktik pembakaran untuk membuka lahan. Sekali api muncul di gambut, sangat sulit dikendalikan,” tegas Taufik.

Ia menambahkan, DLHK tidak bisa bekerja sendirian. Peran aktif pemerintah desa, perusahaan, dan masyarakat mutlak diperlukan. Kolaborasi menjadi kunci untuk menekan ancaman kebakaran lahan gambut Kukar.

Dengan koordinasi yang baik, Taufik optimistis dampak kebakaran bisa diminimalisasi. Ia berharap masyarakat memahami bahwa menjaga gambut berarti melindungi masa depan lingkungan dan kesehatan generasi mendatang. (adv/dlhkkukar/atr)

Artikel ini telah dibaca 19 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Warisan Kutai Masih Bertahan, Festival Nutuk Beham Resmi Dibuka di Kedang Ipil

23 April 2026 - 22:19 WITA

Festival nutuk beham

Lima Rumah Ludes, Kebakaran di Kota Bangun Rugikan Warga Rp3 Miliar

23 April 2026 - 15:41 WITA

Kebakaran kota bangun

3 Hari 3 Malam, Warga Kedang Ipil Jalani Tradisi Nutuk Beham Usai Panen

23 April 2026 - 11:06 WITA

nutuk beham

Warga Protes Rekrutmen RSUD AMI, Bupati Sebut 60 Persen Pegawai Tenaga Lokal

22 April 2026 - 13:36 WITA

Rekrutmen RSUD AMI

Lapas Perempuan Tenggarong Penuh, Sebagian Warga Binaan Masih Dititip di Lapas Laki-laki

22 April 2026 - 12:41 WITA

Lapas Perempuan Tenggarong

Kartini Masa Kini? Ipda Fabiola Pimpin Unit di Polres Kukar pada Usia 23 Tahun

22 April 2026 - 02:27 WITA

Ipda Fabiola Umaida
Trending di Pos-pos Terbaru