Menu

Mode Gelap

Pariwisata · 23 Apr 2026 11:06 WITA

3 Hari 3 Malam, Warga Kedang Ipil Jalani Tradisi Nutuk Beham Usai Panen


Wakil Kepala Adat Kedang Ipil, Sartin. (angga/okeborneo.com) Perbesar

Wakil Kepala Adat Kedang Ipil, Sartin. (angga/okeborneo.com)

okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA — Masyarakat Desa Kedang Ipil, Kutai Kartanegara, kembali bersiap melaksanakan tradisi Nutuk Beham, ritual syukur panen yang digelar selama tiga hari tiga malam. Tradisi turun-temurun ini menjadi bentuk rasa syukur atas hasil panen sekaligus ajang mempererat kebersamaan warga.

Wakil Kepala Adat Kedang Ipil, Sartin, mengatakan pelaksanaan Nutuk Beham diawali dengan musyawarah masyarakat untuk menentukan waktu pelaksanaan.

“Tradisi ini berlangsung selama tiga hari tiga malam, dimulai dari kesepakatan bersama warga terkait waktu pelaksanaannya,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).

Setelah waktu disepakati, warga mulai mengumpulkan padi hasil panen. Seluruh masyarakat dapat ikut berpartisipasi dengan membawa padi sesuai kemampuan masing-masing.

“Siapa saja boleh ikut berpartisipasi dengan menyerahkan padi sesuai kemampuan, biasanya menggunakan ukuran kaleng,” jelasnya.

Padi yang telah terkumpul kemudian direndam selama satu hingga beberapa malam agar teksturnya lebih lembut sebelum diproses lebih lanjut.

“Perendaman biasanya dua sampai tiga malam, tergantung kondisi padi,” tambahnya.

Setelah itu, padi ditiriskan hingga kering lalu disangrai menggunakan teknik khusus agar tidak lengket dan menghasilkan kualitas beras yang baik.

Tahap berikutnya menjadi inti dari tradisi Nutuk Beham, yakni menumbuk padi secara bersama-sama menggunakan lesung dan alu. Proses ini dikerjakan ramai-ramai dan menjadi simbol kuat gotong royong masyarakat.

Suara tumbukan lesung yang bersahut-sahutan menjadi penanda dimulainya puncak kegiatan, sekaligus menghadirkan suasana kebersamaan antarwarga.

Setelah penumbukan dan pembersihan hasil selesai, rangkaian kegiatan ditutup dengan upacara adat sebagai puncak ritual.

“Upacara ini merupakan bentuk rasa syukur kepada leluhur dan dewa-dewi padi atas hasil panen yang diberikan,” tutup Sartin. (atr/bby)

Artikel ini telah dibaca 57 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Kecelakaan di Jembatan Martadipura, Tiga Orang Jadi Korban

17 September 2026 - 15:20 WITA

Bupati Kukar Ancam Tindak Tegas Penimbun Masker di Tengah Kabut Asap

17 September 2026 - 15:17 WITA

Kesultanan Kutai Gelar Sholat Istisqo dan Haul Jama’ Jelang Erau Adat 2026

16 September 2026 - 18:51 WITA

Kabut Asap Kembali Selimuti Tenggarong, Jarak Pandang Mulai Terbatas

16 September 2026 - 15:54 WITA

Erau 2026 Masuk KEN, Persiapan Sakral Hampir 90 Persen

15 September 2026 - 20:32 WITA

Empat Tahun di Teror Penguntit, Penyiar Radio di Samarinda Lapor Polisi

15 September 2026 - 11:35 WITA

Trending di Pos-pos Terbaru