okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Pagi belum sepenuhnya terang ketika aroma rempah menyeruak dari sebuah lapak sederhana di Kelurahan Loa Tebu, Tenggarong, Kutai Kartanegara. Warga sekitar sudah hafal betul, di sinilah Martabak Kareh Malabar Haji Abdullah dijajakan, kuliner legendaris yang usianya nyaris setara dengan perjalanan hidup pelanggannya.
Muhidin, 53 tahun, berdiri sebagai penjaga warisan itu. Ia adalah anak pertama sekaligus penerus usaha Martabak Kareh Malabar Haji Abdullah, kuliner yang telah bertahan lebih dari 40 tahun dan kini memasuki generasi ketiga. Tangannya meracik adonan dan kuah kareh dengan ketelitian yang lahir dari kebiasaan panjang.
“Awalnya dari bapak kami, turun-temurun dari kakek saya,” kata Muhidin.
Dalam silsilah keluarganya mengalir darah India-Pakistan, asal-muasal resep yang hingga kini tak banyak berubah. Martabak kareh ini menggunakan resep autentik dari India, dengan racikan rempah yang sebagian masih didatangkan langsung dari sana.
Usaha ini tercatat sebagai yang pertama di Loa Tebu. Namun jejaknya pernah berpindah. Pada masa lalu, Martabak Kareh Malabar sempat berjualan di kawasan Tenggarong, tak jauh dari Kantor Satlantas. Dari sana, namanya pelan-pelan dikenal luas, melampaui batas kampung.
Tak sedikit tokoh pernah mencicipinya. Muhidin mengingat, Bupati Kutai Kartanegara kerap datang menikmati martabak kari India ini. Bahkan, wali kota dari daerah lain pun pernah menyempatkan singgah.
“Banyak yang datang karena penasaran dengan rasanya,” ujarnya.
Martabak Kareh Malabar berbeda dari martabak pada umumnya. Kuah karehnya kental, berwarna cokelat keemasan, sarat rempah, dan meninggalkan hangat yang bertahan lama di lidah. Ia bukan sekadar makanan, melainkan penanda perjumpaan budaya dan sejarah migrasi yang melebur di Tenggarong.
Lapak ini buka sejak pukul 07.00 dan tutup sekitar pukul 20.00 WITA. Pada masa jayanya, mereka bisa menjual sekitar 50 porsi per hari. Kini jumlah itu menurun, seiring makin banyaknya penjual martabak bermunculan di berbagai sudut kota.
Namun bagi Muhidin, bertahan bukan soal angka semata. Selama resep dijaga dan rasa tak berubah, Martabak Kareh Malabar Haji Abdullah akan terus hidup. Di Loa Tebu, ia bukan hanya kuliner legendaris, melainkan ingatan yang terus disajikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. (atr)








