okeborneo.com,KUTAI KARTANEGARA – Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai menyiapkan pemanfaatan kembali Jam Bentong di Tenggarong sebagai ruang promosi pariwisata sekaligus wadah pengembangan ekonomi kreatif. Bangunan yang sebelumnya sempat tidak difungsikan tersebut diarahkan menjadi museum digital dengan berbagai aktivitas kreatif.
Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dispar Kukar, Awang Ivan Akhmad Yamani, menjelaskan bahwa gagasan revitalisasi Jam Bentong sebagai museum digital sebenarnya telah dirancang sejak 2020. Konsep yang disiapkan mengandalkan teknologi proyeksi video wall untuk menyajikan informasi dengan tema yang dapat berganti sesuai kebutuhan.
Melalui konsep tersebut, pengunjung nantinya dapat menikmati berbagai tayangan visual tentang potensi daerah. Mulai dari kekayaan laut, kawasan hutan, hingga beragam potensi wisata Kukar yang dikemas secara digital.
“Ketika pengunjung masuk, tema yang ditampilkan bisa berubah. Misalnya, kita ingin mengangkat tema laut, kemudian dilanjutkan dengan tema hutan. Seluruh tayangan bisa diatur sesuai materi yang ingin disampaikan,” ungkap Ivan.
Dari sisi fisik bangunan, pekerjaan rehabilitasi yang ditangani Dinas Pekerjaan Umum (PU) disebut telah diselesaikan. Sebelumnya, kondisi Jam Bentong sempat mengalami kerusakan, termasuk kebocoran pada sejumlah bagian bangunan. Bahkan, fasilitas tersebut sempat tidak dimanfaatkan dan hanya menjadi tempat penyimpanan barang.
Pembenahan mulai dilakukan kembali pada 2025, ketika bangunan tersebut digunakan sebagai sekretariat kegiatan KTNA. Karena keterbatasan anggaran, proses penataan awal dilakukan secara gotong royong dengan dukungan Dinas PU yang memiliki alokasi rehabilitasi setiap tahun.
Sejumlah fasilitas turut diperbaiki, termasuk bagian bangunan yang mengalami kerusakan dan kebocoran serta pemasangan kembali pendingin ruangan. Meski masih terdapat beberapa bagian yang perlu dibenahi, kondisi Jam Bentong kini sudah memungkinkan untuk kembali difungsikan.
Ke depan, Dispar Kukar tidak hanya ingin menjadikan bangunan tersebut sebagai museum digital. Jam Bentong juga diarahkan menjadi ruang aktivitas komunitas, khususnya dalam mendukung promosi pariwisata dan pengembangan ekonomi kreatif.
Salah satu pemanfaatan yang tengah dibahas adalah penyediaan ruang podcast. Dispar Kukar melihat peluang tersebut karena telah memiliki peralatan podcast melalui bidang ekonomi kreatif. Dengan ketersediaan tempat dan fasilitas, komunitas diharapkan dapat terlibat dalam menghasilkan konten promosi pariwisata.
Ivan menilai pengelolaan Jam Bentong membutuhkan kolaborasi berbagai pihak agar bangunan tersebut tidak sekadar menjadi fasilitas fisik, tetapi benar-benar hidup melalui aktivitas masyarakat dan komunitas kreatif.
Selain podcast, muncul pula gagasan menjadikan kawasan tersebut sebagai ruang seni atau art space. Ide itu sebelumnya disampaikan komunitas Serapo yang menginginkan adanya tempat khusus untuk menampilkan karya seni dan menjadi ruang kunjungan masyarakat.
Namun, rencana tersebut masih perlu dikaji karena konsep penataan yang diusulkan komunitas membutuhkan perubahan tata ruang bangunan. Sementara itu, proses pekerjaan fisik dari Dinas PU belum sepenuhnya diserahterimakan kepada Dispar Kukar sehingga perubahan menyeluruh terhadap desain yang ada belum dapat dilakukan.
Sebagai alternatif, terdapat usulan untuk menghadirkan area khusus di kawasan Arbizz Space sebagai tempat pameran dan etalase produk kreatif lokal. Meski demikian, realisasinya masih membutuhkan perencanaan serta dukungan anggaran tambahan.
Dispar Kukar berharap berbagai gagasan pemanfaatan tersebut dapat dikembangkan secara bertahap melalui kerja sama dengan komunitas dan pelaku ekonomi kreatif. Dengan demikian, Jam Bentong dapat kembali menjadi salah satu ruang publik yang produktif sekaligus mendukung promosi potensi wisata dan kreativitas daerah.(adv/diskomkukar/atr)










