Menu ✖

Mode Gelap

Pariwisata · 2 Jul 2026 16:34 WITA

Anggaran Daerah Tertekan, Erau 2026 Tetap Jalan Lewat Hibah ke Kesultanan


Erau Adat Kutai menjadi salah satu agenda budaya terbesar di Kutai Kartanegara. Festival Erau 2026 dijadwalkan tetap digelar pada pertengahan September melalui skema hibah kepada Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. (Istimewa) Perbesar

Erau Adat Kutai menjadi salah satu agenda budaya terbesar di Kutai Kartanegara. Festival Erau 2026 dijadwalkan tetap digelar pada pertengahan September melalui skema hibah kepada Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. (Istimewa)

okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Festival Erau Adat Kutai 2026 tetap akan digelar meski keuangan daerah Kutai Kartanegara sedang mengalami tekanan. Pemerintah Kabupaten Kukar menyiapkan pelaksanaan agenda budaya tersebut melalui skema hibah kepada Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Erau 2026 dijadwalkan berlangsung pada pertengahan September 2026. Selain sebagai agenda pelestarian adat, festival ini juga diharapkan kembali menggerakkan ekonomi masyarakat, terutama sektor perdagangan, jasa, perhotelan, transportasi, ekonomi kreatif, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar, Heriansyah, mengatakan persiapan Erau 2026 mulai berjalan. Pemerintah daerah bersama Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura terus melakukan koordinasi untuk menyiapkan rangkaian acara adat maupun kegiatan pendukung.

“Yang sedang kami lakukan sekarang adalah membentuk tim pelaksana,” ujar Heriansyah, Selasa, 30 Juni 2026.

Selain pembentukan tim, Disdikbud Kukar juga mulai menyusun konsep seremonial Erau 2026. Persiapan itu termasuk rencana pertunjukan seni dan tari kolosal yang membutuhkan waktu produksi cukup panjang.

“Kami juga memastikan akan terus berkoordinasi dengan seluruh pihak yang terlibat dalam persiapan Erau,” katanya.

Heriansyah menjelaskan, pelaksanaan Erau tahun ini menggunakan pola baru. Anggaran disalurkan melalui dana hibah kepada Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Dengan skema tersebut, Kesultanan menjadi pelaksana utama, sedangkan Disdikbud Kukar berperan mendampingi dan berkoordinasi dalam proses persiapan hingga pelaksanaan.

“Pelaksanaannya melalui dana hibah kepada kesultanan. Kesultanan akan menjadi pelaksana utama, sedangkan Disdikbud tetap membantu mendampingi dan berkoordinasi,” jelasnya.

Menurut Heriansyah, penyesuaian skema tersebut dilakukan di tengah kondisi ruang fiskal daerah yang terbatas. Meski demikian, Pemkab Kukar tetap menempatkan Erau sebagai agenda prioritas karena berkaitan dengan pelestarian budaya Kutai.

Ia menyebut optimalisasi anggaran akan dilakukan agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan efektif tanpa mengurangi nilai adat dan tradisi yang menjadi inti penyelenggaraan Erau.

Dukungan terhadap pelaksanaan Erau juga disampaikan Ketua DPRD Kukar, Ahmad Yani. Menurutnya, Erau merupakan identitas budaya daerah yang perlu terus dijaga.

“Erau merupakan salah satu tradisi tertua di daerah kita. Selain menjaga adat dan budaya, Erau juga menghasilkan perputaran perekonomian bagi masyarakat. Karena itu kegiatan seperti ini harus tetap menjadi prioritas,” ujarnya.

Ahmad Yani menilai manfaat Erau tidak hanya berada pada aspek adat dan budaya. Festival tersebut juga memberi dampak ekonomi bagi masyarakat, terutama pelaku usaha yang terlibat selama rangkaian kegiatan berlangsung.

Pada penyelenggaraan sebelumnya, Erau tercatat memberi kontribusi terhadap perputaran ekonomi lokal. Berdasarkan data Dinas Pariwisata Kukar, Festival Erau 2024 disebut mampu menciptakan perputaran ekonomi sekitar Rp30 miliar dari sektor perdagangan, jasa, transportasi, perhotelan, hingga transaksi UMKM.

Sementara pada Erau 2025, nilai transaksi disebut mengalami penurunan, tetapi tetap memberi dampak bagi ekonomi lokal. Sebanyak 109 pelaku UMKM mengikuti expo dengan rata-rata transaksi sekitar Rp3 juta per stan setiap hari. Selama sepekan pelaksanaan, transaksi UMKM diperkirakan mencapai lebih dari Rp2 miliar.

Melalui kolaborasi antara Pemkab Kukar dan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Erau 2026 diharapkan tetap menjadi ruang pelestarian budaya sekaligus mendorong perputaran ekonomi masyarakat. Pemerintah daerah juga berharap pelaksanaan festival dapat memperkuat sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM di Kukar. (atr/bby)

Artikel ini telah dibaca 31 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

World Tourism Day 2026, Dispar Kukar Dorong Destinasi Wisata Kembali Ramai Lewat Aksi Bersih

25 September 2026 - 18:51 WITA

Tuan Rumah MTQ Kaltim 2026, Kukar Siapkan Kafilah di 58 Cabang Lomba

25 September 2026 - 18:36 WITA

Kukar Berprestasi Kendalikan Inflasi, Aulia–Rendi Raih TPID Award 2026

25 September 2026 - 13:39 WITA

Bupati Kukar Ajak Generasi Muda Lestarikan Tradisi Beseprah

24 September 2026 - 15:03 WITA

Beseprah Erau 2026, Bupati Kukar Ingin Tradisi Makan Bersama Lebih Dekat dengan Rakyat

24 September 2026 - 12:14 WITA

Anggota VI BPK RI Fathan Subchi Diberi Gelar Pangeran Kelana Panji Wira oleh Kesultanan Kutai

24 September 2026 - 10:45 WITA

Trending di Advertorial