Menu

Mode Gelap

Advertorial · 19 Agu 2025 20:47 WITA

Anggaran Tanggap Darurat Dihapus, Penanganan Longsor di Kukar Terhambat


Sebagian badan jalan di tepi Sungai Mahakam di Kecamatan Kota Bangun amblas akibat longsor, Selasa (19/8/2025). (Angga/okeborneo.com) Perbesar

Sebagian badan jalan di tepi Sungai Mahakam di Kecamatan Kota Bangun amblas akibat longsor, Selasa (19/8/2025). (Angga/okeborneo.com)

okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA Retakan di badan jalan di tepi Sungai Mahakam di Kecamatan Kota Bangun kini berubah jadi jurang. Separuh ruas jalan amblas ke sungai, menyisakan akses yang hanya bisa dilalui sepeda motor. Di tengah kondisi ini, Wakil Ketua DPRD Kukar, Abdul Rasid, mendesak pemerintah daerah segera mengalokasikan kembali anggaran tanggap darurat.

“Kita tahu kondisi alam tidak bisa ditebak. Kalau terjadi bencana, pemerintah harus bisa segera bertindak tanpa menunggu proses panjang,” ujar Rasid, Selasa (19/8/2025).

Ia menyoroti ketiadaan dana cadangan untuk perbaikan infrastruktur yang rusak akibat bencana alam. Padahal, menurutnya, kecepatan penanganan sangat bergantung pada kesiapan anggaran darurat. “Kalau ada dana tanggap darurat, perbaikan bisa langsung dilakukan tanpa menunggu perubahan APBD,” tegasnya.

Politisi Partai Golkar itu meminta agar organisasi perangkat daerah (OPD) yang menangani kebencanaan dan infrastruktur segera mengusulkan kembali pos anggaran tanggap darurat di tahun berikutnya. “Bencana bisa datang kapan saja. Tanpa dana itu, pemerintah akan kesulitan bergerak cepat,” tambahnya.

Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Kukar, Linda Juniarti, membenarkan bahwa Pemkab saat ini tidak memiliki anggaran tanggap darurat. “Sekarang tidak ada pos khusus yang bisa langsung digunakan. Tahun lalu dana itu masih ada, tapi regulasi APBD terbaru tidak lagi memperbolehkannya,” jelasnya.

Linda mengungkapkan, sepanjang 2025 beberapa wilayah di Kukar mengalami kerusakan akibat bencana, termasuk patahnya jalan di Muara Muntai, Kota Bangun Ulu, Margahayu, dan Bendang Raya. “Tanpa dana tanggap darurat, semua perbaikan harus menunggu proses anggaran reguler. Ini jelas memperlambat penanganan,” katanya.

Rasid berharap pemerintah bisa mencari mekanisme alternatif seperti dana cadangan bencana atau pos tak terduga yang bisa diakses cepat dan tetap akuntabel. “Tujuannya agar ketika bencana terjadi, pemerintah bisa segera turun tangan tanpa hambatan birokrasi,” ujarnya. (adv/dprdkukar/atr)

Artikel ini telah dibaca 11 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Lima Rumah Ludes, Kebakaran di Kota Bangun Rugikan Warga Rp3 Miliar

23 April 2026 - 15:41 WITA

Kebakaran kota bangun

3 Hari 3 Malam, Warga Kedang Ipil Jalani Tradisi Nutuk Beham Usai Panen

23 April 2026 - 11:06 WITA

nutuk beham

Warga Protes Rekrutmen RSUD AMI, Bupati Sebut 60 Persen Pegawai Tenaga Lokal

22 April 2026 - 13:36 WITA

Rekrutmen RSUD AMI

Lapas Perempuan Tenggarong Penuh, Sebagian Warga Binaan Masih Dititip di Lapas Laki-laki

22 April 2026 - 12:41 WITA

Lapas Perempuan Tenggarong

Kartini Masa Kini? Ipda Fabiola Pimpin Unit di Polres Kukar pada Usia 23 Tahun

22 April 2026 - 02:27 WITA

Ipda Fabiola Umaida

Akademisi Samarinda: Kartini Masa Kini Sudah Masuk Pusat Kekuasaan dan Inovasi

21 April 2026 - 11:13 WITA

kartini
Trending di Pendidikan