Menu

Mode Gelap

Hukum - Kriminal · 10 Jun 2026 19:18 WITA

Rita Widyasari Muncul Lagi, Pengamat Baca Sinyal Pengaruh Politik yang Belum Padam


Rita Widyasari Muncul Lagi, Pengamat Baca Sinyal Pengaruh Politik yang Belum Padam Perbesar

okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Kemunculan Rita Widyasari di media sosial memunculkan pertanyaan baru di Kutai Kartanegara: apakah dukungan politik lamanya masih hidup, atau hanya nostalgia warganet terhadap mantan pemimpin daerah?

Mantan Bupati Kutai Kartanegara itu kembali mendapat perhatian setelah aktivitasnya di media sosial memantik beragam komentar dari masyarakat. Sebagian respons publik dibaca sebagai tanda bahwa Rita masih memiliki kedekatan emosional dengan kelompok tertentu di Kukar.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman, Jumansyah, menilai respons tersebut tidak bisa dilepaskan dari jejak kepemimpinan Rita selama menjabat kepala daerah.

“Beliau merupakan tokoh politik yang hadir dalam beberapa periode dan tentu memiliki basis dukungan yang melekat. Saya kira beliau masih memiliki kesan bagi sebagian masyarakat dan kelompok tertentu di Kutai Kartanegara. Fenomena yang terlihat di media sosial itu kemungkinan merupakan dukungan masa lalu yang sudah mengkristal,” ujarnya.

Menurut Jumansyah, kemunculan Rita di ruang publik digital dapat memunculkan kembali ikatan emosional bagi sebagian warga. Terutama mereka yang pernah merasa dekat, berinteraksi, atau merasakan langsung masa kepemimpinannya.

“Ketika masyarakat melihat mantan bupati tersebut, tentu ada konektivitas tertentu. Saya menduga sebagian besar orang yang memberikan komentar di media sosial memiliki kedekatan atau hubungan secara personal, baik sebagai masyarakat maupun ketika beliau masih menjadi pemimpin. Karena itu muncul kembali empati dari sebagian masyarakat,” katanya.

Meski begitu, Jumansyah mengingatkan bahwa respons di media sosial tidak bisa langsung dibaca sebagai ukuran elektabilitas. Menurutnya, komentar warganet hanya salah satu gejala awal, bukan variabel utama untuk menilai kekuatan politik seseorang.

“Jumlahnya masih sangat kecil secara persentase. Itu tidak bisa dijadikan variabel utama untuk menilai apakah tingkat elektabilitas beliau masih tinggi atau tidak. Tetapi secara personal, kita bisa melihat bahwa masih ada kelompok masyarakat tertentu yang menerima beliau,” jelasnya.

Ia menilai kemunculan Rita tetap memiliki dampak politik tersendiri. Setidaknya, kehadiran itu menunjukkan bahwa nama Rita belum sepenuhnya hilang dari ingatan politik publik Kukar.

“Politik kita masih memiliki kecenderungan bertumpu pada ketokohan dan basis kemasyarakatan. Ketokohan menjadi jembatan sosial-politik yang penting karena pada akhirnya masyarakatlah yang memegang mandat tertinggi melalui pilihan mereka,” ujar Jumansyah.

Menurutnya, media sosial dapat menjadi ruang untuk membaca ulang eksistensi seorang tokoh politik. Namun, tafsir terhadap respons publik tetap perlu dilakukan secara hati-hati.

“Apakah itu bisa menjadi modal sosial untuk masa depan, hari ini kita belum bisa memastikan. Tetapi kehadiran di media sosial setidaknya menunjukkan dua hal. Pertama, memastikan bahwa beliau telah hadir kembali di ruang publik. Kedua, menunjukkan eksistensi dirinya kepada masyarakat,” sambungnya.

Terkait munculnya berbagai narasi pembelaan terhadap perkara hukum yang pernah menjerat Rita Widyasari, Jumansyah menilai hal itu tidak perlu lagi dibangun sebagai pembenaran baru.

Menurutnya, perkara hukum yang telah diputus pengadilan sebaiknya dilihat sebagai proses yang sudah selesai secara hukum.

“Menurut saya, rasionalisasi atau pembelaan terhadap kasus hukum yang sudah diputuskan tidak lagi relevan. Ketika seseorang sudah divonis, maka proses hukumnya sudah selesai,” tegasnya.

Jumansyah menambahkan, status hukum Rita tetap menjadi bagian dari konteks publik yang tidak bisa diabaikan. Namun, dalam membaca dinamika politik hari ini, yang perlu dilihat adalah bagaimana jejaring, loyalis, dan memori politik terhadap Rita masih bekerja di masyarakat.

Dalam konteks politik lokal, Jumansyah menilai pengaruh Rita masih mungkin muncul melalui jejaring sosial-politik yang pernah dibangun selama bertahun-tahun.

“Potensinya tentu masih ada. Kalau di Kutai Kartanegara, sekalipun beliau tidak bisa mencalonkan diri, beliau masih bisa berdinamika dalam percaturan politik Kalimantan Timur,” katanya.

Namun, ruang politik elektoral Rita tetap perlu dilihat berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku. Di luar pencalonan langsung, pengaruh politik seorang tokoh masih dapat bergerak melalui jaringan, dukungan, maupun relasi dengan figur lain.

Menurut Jumansyah, loyalis politik tidak serta-merta hilang setelah seorang tokoh lama tidak tampil di ruang publik. Terlebih, banyak figur yang pernah berada dalam orbit politik Rita dan kini menempati posisi strategis di tingkat lokal.

“Kita tahu bagaimana jejaring politik beliau, baik di tingkat lokal maupun nasional. Loyalis beliau juga tidak serta-merta hilang. Banyak orang yang pernah dibesarkan dalam agenda politik beliau dan saat ini memegang posisi strategis di tingkat lokal,” ujarnya.

Jumansyah juga menyoroti narasi Rita yang menyampaikan kerinduan terhadap Kutai Kartanegara dan masakan khas Kutai. Menurutnya, narasi semacam itu dapat dibaca sebagai upaya membangun kembali kedekatan emosional dengan masyarakat.

“Yang terlihat dari narasi yang dibangun saat ini adalah upaya meyakinkan publik bahwa dirinya masih memiliki keterikatan dengan masyarakat Kutai Kartanegara. Secara simbolik, beliau ingin menunjukkan bahwa dirinya masih memiliki hubungan emosional dan kedekatan dengan warga Kukar,” tuturnya.

Ia menilai komentar yang muncul di media sosial dapat menjadi salah satu bahan awal untuk membaca daya tarik politik seorang tokoh. Namun, respons digital tetap perlu dibedakan dari kekuatan politik nyata di lapangan.

“Komentar-komentar yang muncul di media sosial juga bisa menjadi indikator kapasitas mobilisasi dan daya tarik politiknya. Itu bisa menjadi pertimbangan dalam membaca peta politik ke depan,” pungkasnya.

Dengan demikian, kemunculan Rita Widyasari di media sosial tidak otomatis dapat dibaca sebagai tanda tingginya elektabilitas. Namun, respons yang muncul menunjukkan bahwa memori politik, jejaring loyalis, dan kedekatan emosional terhadap mantan Bupati Kukar itu belum sepenuhnya padam. (atr/bby)

 

Tag SEO:

Rita Widyasari, Rita Widyasari Kukar, mantan Bupati Kukar, politik Kukar, Kutai Kartanegara, pengaruh politik Rita Widyasari, Rita Widyasari media sosial, Jumansyah FISIP Unmul, pengamat politik Unmul, politik Kalimantan Timur, loyalis Rita Widyasari, peta politik Kukar, elektabilitas Rita Widyasari, okeborneo.com

 

Delayed lead:

Kemunculan Rita Widyasari di media sosial dibaca sebagai sinyal pengaruh politik, meski respons warganet belum jadi ukuran elektabilitas.

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Bongkar Muat Serap 1.500 Pekerja Lokal, Kukar Dorong Peluang Ekonomi Pesisir

10 Juni 2026 - 19:49 WITA

pesisir Kukar

Unit PPA Polres Kukar Tangani Video Diduga Melibatkan Anak, Warga Diimbau Tak Menyebarkan

9 Juni 2026 - 17:46 WITA

Unit PPA Polres Kukar,

Kapolres Cup Esports Dibuka Gratis, Tim Mobile Legends Kukar Berebut Tiket ke Kapolda Cup

9 Juni 2026 - 15:50 WITA

Kapolres Cup Esports Kukar

Pendaftaran Beasiswa Kukar Idaman 2026 Berpeluang Diperpanjang hingga 19 Juni

9 Juni 2026 - 15:29 WITA

Beasiswa Kukar Idaman Terbaik 2026

Setelah Sangasanga dan Muara Jawa, Gowes Bersama Sambangi Warga Samboja

8 Juni 2026 - 19:25 WITA

gowes bersama

Biaya Naik, Pembeli Turun: Pedagang Gorengan Tenggarong Terjepit Harga Minyak

8 Juni 2026 - 17:07 WITA

gorengan tenggarong
Trending di Ekonomi