okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA– Pemandangan sampah plastik yang berserakan di pinggir jalan menjadi pendorong bagi Yayuk Sehati untuk bergerak. Bersama warga Desa Suka Maju, ia mendirikan Bank Sampah Sukamaju, sebuah inisiatif sederhana yang kini berkembang menjadi gerakan nyata dalam menjaga kebersihan lingkungan sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat.
“Saya pribadi merasa sedih setiap kali melihat sampah plastik berserakan di jalan,” ujar Yayuk, Ketua Bank Sampah Sukamaju. “Tujuan kami bukan semata mencari uang, tapi ikut mendukung program pemerintah dalam menjaga kebersihan lingkungan. Namun alhamdulillah, dari usaha ini kami juga mendapatkan hasil ekonomi yang bisa membantu anggota.”
Bank Sampah Sukamaju menjadi wadah warga untuk memilah dan mengumpulkan sampah rumah tangga, terutama plastik yang sulit terurai. Sampah yang terkumpul kemudian dipilah, ditimbang, dan ditukar dengan tabungan uang. Dari hasil pengelolaan ini, warga tidak hanya belajar tentang pentingnya daur ulang, tetapi juga merasakan langsung manfaat finansialnya.
Yayuk bercerita, awalnya hanya segelintir warga yang mau bergabung. Namun, seiring waktu, kesadaran masyarakat meningkat. Kini, puluhan keluarga di Desa Suka Maju aktif menyetorkan sampah ke bank sampah setiap pekan. “Yang awalnya malu membawa sampah, sekarang malah semangat karena tahu hasilnya bisa membantu kebutuhan rumah tangga,” kata Yayuk.
Selain menabung dari hasil sampah, kelompok ini juga berinovasi dengan mengolah limbah plastik menjadi produk bernilai guna, seperti paving blok ramah lingkungan. Inovasi ini tak hanya mengurangi volume sampah plastik, tapi juga membuka peluang usaha baru di tingkat desa.
“Kalau setiap desa menerapkan hal serupa, saya yakin masalah sampah bisa teratasi,” ucap Yayuk optimistis. “Satu paving blok saja membutuhkan sekitar dua kilogram plastik. Bayangkan, kalau setiap hari terkumpul 100 kilogram plastik, itu sudah bisa jadi 50 paving.” (adv/dlhkkukar/atr)








