okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Di era ketidakpastian iklim, data menjadi senjata penting bagi pemerintah daerah untuk menjaga ketahanan pangan. Itulah yang kini dilakukan Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kutai Kartanegara (Kukar) dengan memperkuat sistem pemantauan berbasis laporan curah hujan dan produksi pertanian yang dikirimkan secara rutin dari lapangan.
Plt Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Distanak Kukar, Taufik, menjelaskan laporan curah hujan tidak hanya mengandalkan data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Petugas pencatat di lapangan juga dilengkapi alat bantu sederhana untuk mengukur dan melaporkan curah hujan secara bulanan. “Kawan-kawan di lapangan mengirimkan laporan curah hujan setiap bulan dari kecamatan ke kabupaten, kemudian kami lakukan rekap,” ujarnya, Selasa (23/9/2025).
Selain itu, data produksi pertanian dikumpulkan secara sistematis melalui aplikasi terintegrasi. Informasi mengenai luas tanam dan panen dicatat secara online oleh petugas lapangan, kemudian direkap dan dimasukkan ke sistem. “Misalnya untuk cabai, ada aplikasi Si Pedas yang terkoneksi langsung dengan Dinas Pertanian Provinsi dan juga Badan Pusat Statistik (BPS). Sedangkan untuk padi, laporan luas tambah tanam kami pantau melalui sistem harian, mingguan, hingga bulanan,” terang Taufik.
Melalui integrasi data ini, Distanak Kukar dapat membaca pola produksi sekaligus mengantisipasi dampak perubahan iklim yang kian terasa. Pemantauan yang akurat diharapkan menjadi dasar dalam menentukan kebijakan strategis, mulai dari distribusi bantuan benih hingga langkah intervensi untuk menstabilkan harga komoditas.
“Dengan data yang selalu diperbarui, kebijakan bisa lebih tepat sasaran. Kami ingin memastikan bahwa ketahanan pangan Kukar tetap terjaga meski menghadapi tantangan iklim dan fluktuasi produksi,” tegas Taufik. (adv/distanakkukar/atr)








