okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Kesadaran menjaga lingkungan tidak bisa tumbuh instan. Karena itu, Bank Sampah Al Hidayah di Kelurahan Maluhu memilih menanamkannya sejak dini lewat program edukasi rutin bagi anak-anak setiap akhir pekan.
Ketua Bank Sampah Al Hidayah, Sugiarto, menuturkan bahwa kegiatan ini terbuka bagi berbagai kelompok usia. “Setiap Sabtu atau Minggu, anak-anak bisa berkunjung ke bank sampah. Misalnya dari PAUD, pramuka, hingga mahasiswa,” ujarnya, Sabtu (27/9/2025).
Bagi anak-anak TK dan SD, edukasi dilakukan dengan cara sederhana. Mereka diperkenalkan pada jenis-jenis sampah, cara memilah, dan bagaimana dampaknya terhadap lingkungan. Metode belajar sambil bermain dipilih agar anak-anak lebih mudah memahami pesan yang disampaikan.
Untuk kelompok yang lebih besar seperti pramuka dan pelajar tingkat lanjut, pendekatan dilakukan dengan praktik langsung. Mereka diajak mengolah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi, salah satu produk unggulan Bank Sampah Al Hidayah. “Anak-anak pramuka kami ajarkan membuat lilin. Ibu-ibu juga ikut praktik,” kata Sugiarto.
Program ini mendapat dukungan luas. Orang tua menilai kegiatan tersebut memberi pengalaman berharga sekaligus membentuk kebiasaan baik pada anak-anak mereka. Para guru pun menyambut positif karena siswa memperoleh pelajaran nyata di luar kelas yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Menurut Sugiarto, edukasi ini bukan semata-mata tentang sampah, tetapi membangun pola pikir generasi muda agar lebih bijak dalam memandang limbah. “Kami ingin anak-anak tumbuh dengan pemahaman bahwa sampah bisa diolah dan memiliki nilai ekonomi, bukan hanya barang buangan,” jelasnya.
Dengan program berkesinambungan ini, Bank Sampah Al Hidayah berharap lahir generasi baru yang lebih peduli lingkungan dan siap melanjutkan gerakan hijau di masyarakat. (adv/dlhkkukar/atr)








