Menu

Mode Gelap

Pos-pos Terbaru · 15 Sep 2026 20:32 WITA

Erau 2026 Masuk KEN, Persiapan Sakral Hampir 90 Persen


Bupati Kukar Aulia Rahman Basri. (Angga/okeborneo.com) Perbesar

Bupati Kukar Aulia Rahman Basri. (Angga/okeborneo.com)

okeborneo.com,KUTAI KARTANEGARA– Persiapan pelaksanaan Erau Adat Kutai Kartanegara 2026 terus dimatangkan. Tahun ini, pelaksanaan Erau memiliki tantangan berbeda karena telah masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN), sehingga penyelenggara dituntut memenuhi sejumlah standar yang ditetapkan pemerintah pusat.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara, Heriansyah, mengatakan masuknya Erau dalam KEN membuat aspek penyelenggaraan harus dipersiapkan lebih terukur. Tidak hanya terkait rangkaian acara, tetapi juga pengelolaan lingkungan, mitigasi risiko hingga dampak ekonomi bagi pelaku UMKM.

“Erau tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Erau tahun ini sudah masuk Karisma Event Nusantara, sehingga standar pelaksanaannya harus diperhatikan. Ada standar dan target tertentu yang diminta oleh kementerian dan harus kita penuhi,” kata Heriansyah.

Menurutnya, salah satu perhatian dalam penyelenggaraan Erau adalah pengelolaan sampah. Panitia dan pihak terkait diminta memastikan pelaksanaan kegiatan tidak menimbulkan persoalan sampah di lokasi acara.

Selain itu, mitigasi risiko juga menjadi bagian yang harus disiapkan. Heriansyah menyebut penyelenggara perlu memiliki langkah penanganan apabila terjadi bencana selama rangkaian kegiatan berlangsung.

“Misalnya dalam proses pelaksanaan, bagaimana kegiatan ini tidak menimbulkan sampah di mana-mana. Penanganan sampah harus dipersiapkan dengan baik,” ujarnya.

“Kemudian, apabila dalam proses pelaksanaan terjadi bencana, harus dibuat mitigasi risiko. Yang ketiga, bagaimana efek dari pelaksanaan Erau ini juga berdampak pada UMKM kita. Itu harus bisa diukur,” lanjutnya.

Aspek komunikasi juga menjadi perhatian. Heriansyah mengatakan informasi dalam pelaksanaan Erau tidak cukup hanya disampaikan menggunakan satu bahasa, mengingat kegiatan tersebut juga diakses oleh masyarakat dari luar daerah maupun mancanegara.

“Dalam proses pelaksanaan juga jangan hanya menggunakan satu bahasa. Harus ada bahasa lain yang bisa diakses atau diterjemahkan oleh pihak luar, terutama Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris,” katanya.

Sementara itu, untuk persiapan rangkaian kegiatan sakral Erau, Heriansyah menyebut progres fisik telah mencapai hampir 90 persen. Sejumlah rangkaian pra-Erau juga telah dilaksanakan oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-21, Sultan Aji Muhammad Arifin.

“Kalau persiapan secara fisik untuk kegiatan sakral sudah hampir 90 persen. Bahkan pra-Erau, Ayahanda Sultan sudah melakukan beberapa rangkaian acara,” ujar Heriansyah.

Rangkaian tersebut di antaranya ziarah ke makam para raja dan Sultan di kompleks Museum Mulawarman serta ziarah ke Desa Kutai Lama. Pada hari ini juga telah dilaksanakan prosesi Pesawai.

Heriansyah menegaskan seluruh rangkaian kegiatan sakral Erau diikuti langsung oleh Sultan. Hal tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan adat yang terus dijaga dan dilestarikan.

Sultan Aji Muhammad Arifin juga menjelaskan salah satu ketentuan adat yang tetap dijalankan selama Erau, yakni Sultan tidak menginjakkan kaki ke tanah sejak prosesi mendirikan Tiang Ayu hingga Tiang Ayu dirobohkan.

“Kalau menginjakkan kaki ke tanah itu, dimulai dari saat menirikan Tiang Ayu di istana atau Kedaton Museum sampai berakhirnya Tiang Ayu dirobohkan. Setelah itu baru kita bisa menginjak tanah,” kata Sultan.

Selama masa tersebut, Sultan mengatakan terdapat ketentuan khusus ketika berada di lingkungan istana. Jika berada di rumah, Sultan tetap berada di rumah, sedangkan ketika menuju istana menggunakan kain kuning.

Menurut Sultan, ketentuan tersebut merupakan bagian dari adat yang diwariskan leluhur dan hingga kini masih dipertahankan.

“Namanya adat, kita tidak bisa mengubahnya dari zaman dahulu. Itu merupakan adat dari nenek moyang kita. Jadi sampai sekarang masih tetap dijalankan dan diteruskan kepada anak cucu kita,” tegasnya.

Ia menilai keberlanjutan adat tersebut penting agar nilai-nilai dan tradisi yang diwariskan leluhur tetap dikenal serta dijalankan oleh generasi berikutnya.

“Itu yang penting,” pungkasnya.(atr)

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Empat Tahun di Teror Penguntit, Penyiar Radio di Samarinda Lapor Polisi

15 September 2026 - 11:35 WITA

58 Tenant Terisi, Puja Sera Taman Kota ArbizzSpace Siap Dibuka

14 September 2026 - 19:49 WITA

Hetifah Dorong Data Sensus Ekonomi 2026 Jadi Dasar Kebijakan yang Lebih Tepat Sasaran

14 September 2026 - 16:09 WITA

SIGAP UMKM, Diskop UKM Kukar Perkuat Pembinaan Usaha Mikro Berbasis Kebutuhan

14 September 2026 - 12:35 WITA

Dugaan Mortir Sisa Perang Ditemukan di Dasar Sungai Mahakam Samarinda

14 September 2026 - 12:33 WITA

Pendapatan Koperasi Senyiur Indah Dialokasikan untuk Bangun 42 Rumah Karyawan

11 September 2026 - 12:20 WITA

Trending di Home