Menu

Mode Gelap

Advertorial · 26 Sep 2025 17:23 WITA

Fasilitas Terbatas, TPS3R Barokah Masih Andalkan Pembakaran Sampah Harian


Petugas TPS3R Barokah Loa Kulu mengoperasikan tungku pembakaran sampah rumah tangga yang masuk setiap hari, Kamis (24/9/2025). (Angga/okeborneo.com) Perbesar

Petugas TPS3R Barokah Loa Kulu mengoperasikan tungku pembakaran sampah rumah tangga yang masuk setiap hari, Kamis (24/9/2025). (Angga/okeborneo.com)

okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Api yang menyala di tungku besar TPS3R Barokah menjadi saksi keterbatasan sistem pengelolaan sampah di Loa Kulu. Setiap harinya, sekitar 1,3 ton sampah rumah tangga menumpuk di lokasi ini. Sebagian kecil bisa dipilah dan dijual kembali, tetapi mayoritas berakhir di ruang pembakaran untuk dimusnahkan.

Ketua TPS3R Barokah, Muhammad Fadli, menyebut jumlah sampah yang masuk jauh melampaui kapasitas pengolahan yang tersedia. “Setiap hari sekitar 1,3 ton sampah terpaksa dibakar setelah dipilah. Yang masih punya nilai ekonomi kami pisahkan, sisanya baru dimusnahkan,” ujarnya, Kamis (24/9/2025).

Menurut Fadli, kondisi ini tak lepas dari minimnya sarana dan prasarana. Mesin pencacah, alat daur ulang, maupun teknologi ramah lingkungan yang lebih modern belum dimiliki. Karena itu, pembakaran dianggap sebagai jalan pintas untuk menghindari penumpukan. “Kalau ada dukungan teknologi modern, tentu kami ingin mengurangi pembakaran,” tambahnya.

Proses pemusnahan dilakukan setelah sampah dipilah lebih dulu. Plastik, kertas, botol, dan material anorganik lain yang masih bisa bernilai ekonomi dikumpulkan untuk dijual. Namun sisa residu yang benar-benar tak bisa diolah kembali, seperti plastik multilayer dan sampah organik basah bercampur, dimusnahkan melalui tungku pembakaran berukuran besar.

Meski metode ini masih jauh dari ideal, warga sekitar menilai keberadaan TPS3R cukup memberi dampak positif. Penumpukan sampah di lingkungan empat desa yang menjadi wilayah cakupan TPS3R—Loa Kulu Kota, Ponoragan, Loa Sumber, dan Sepakat—berhasil ditekan. “Dengan adanya TPS3R, beban sampah di desa-desa sekitar Loa Kulu bisa lebih terkendali,” kata Fadli.

Namun ia tak menutup mata bahwa pembakaran hanya solusi sementara. Polusi udara yang dihasilkan tetap menjadi ancaman jika metode ini digunakan jangka panjang. Fadli menekankan perlunya dukungan pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk mencari model pengelolaan yang lebih berkelanjutan. “Harapan kami ada perhatian lebih, baik pendampingan maupun fasilitas, supaya pengelolaan sampah tidak hanya berhenti pada pemilahan dan pembakaran,” pungkasnya. (adv/dlhkkukar/atr)

Artikel ini telah dibaca 156 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Erau 2026 Masuk KEN, Persiapan Sakral Hampir 90 Persen

15 September 2026 - 20:32 WITA

Empat Tahun di Teror Penguntit, Penyiar Radio di Samarinda Lapor Polisi

15 September 2026 - 11:35 WITA

58 Tenant Terisi, Puja Sera Taman Kota ArbizzSpace Siap Dibuka

14 September 2026 - 19:49 WITA

Hetifah Dorong Data Sensus Ekonomi 2026 Jadi Dasar Kebijakan yang Lebih Tepat Sasaran

14 September 2026 - 16:09 WITA

SIGAP UMKM, Diskop UKM Kukar Perkuat Pembinaan Usaha Mikro Berbasis Kebutuhan

14 September 2026 - 12:35 WITA

Dugaan Mortir Sisa Perang Ditemukan di Dasar Sungai Mahakam Samarinda

14 September 2026 - 12:33 WITA

Trending di Pos-pos Terbaru