Menu

Mode Gelap

Pemerintahan · 16 Apr 2026 18:46 WITA

Harus Tinggalkan Rumah hingga Sewa Tempat Baru, P3K Kukar Pilih Resign


Plt Kepala BKPSDM Kutai Kartanegara, Arianto, menjelaskan alasan sejumlah P3K mengundurkan diri usai penempatan, yang dipicu jarak tugas dan beban biaya hidup di lokasi baru. (Angga/okeborneo.com) Perbesar

Plt Kepala BKPSDM Kutai Kartanegara, Arianto, menjelaskan alasan sejumlah P3K mengundurkan diri usai penempatan, yang dipicu jarak tugas dan beban biaya hidup di lokasi baru. (Angga/okeborneo.com)

okeborneo.com,KUTAI KARTANEGARA — Sejumlah Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) di Kutai Kartanegara memilih mengundurkan diri tak lama setelah penempatan. Mereka harus meninggalkan tempat tinggal, menyewa hunian baru, dan menanggung biaya hidup yang dinilai tidak sebanding dengan penghasilan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BKPSDM Kukar, Arianto, menyebut jumlah pengunduran diri saat ini masih dalam proses verifikasi. Namun, dari usulan pemberhentian yang masuk, jumlahnya diperkirakan berkisar antara 10 hingga 20 orang.

“Kalau jumlah pastinya belum saya dapatkan secara menyeluruh. Namun, dari hasil verifikasi sementara, kurang lebih sekitar 10 sampai 20 orang yang mengajukan resign,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).

Ia menegaskan, pengunduran diri tersebut tidak dikenai sanksi karena merupakan keputusan pribadi masing-masing pegawai.

“Itu tidak ada sanksi. Mereka mengundurkan diri, sehingga otomatis tidak lagi menjadi pegawai. Tidak ada lagi keterikatan dengan pemerintah daerah,” jelasnya.

Arianto menjelaskan, penempatan P3K sepenuhnya mengikuti kebijakan pemerintah pusat. Pemerintah daerah hanya melakukan pemetaan kebutuhan pegawai di masing-masing organisasi perangkat daerah (OPD).

“Pemerintah daerah diminta memetakan kebutuhan. Misalnya kecamatan A membutuhkan sekian orang, kecamatan B sekian orang, dinas A sekian orang. Semua disesuaikan dengan kebutuhan,” katanya.

Melalui mekanisme tersebut, dilakukan pemerataan pegawai sebelum penempatan. Namun, dalam praktiknya, kondisi di lapangan tidak selalu seimbang. Di beberapa instansi, seperti sekolah, terjadi kelebihan pegawai sehingga sebagian harus dipindahkan ke lokasi lain.

Perpindahan ini membuat sejumlah P3K harus bekerja jauh dari tempat tinggal semula. Mereka harus mencari tempat tinggal baru di lokasi penugasan, sekaligus menanggung biaya hidup tambahan.

“Beberapa pegawai mengundurkan diri karena tidak memiliki tempat tinggal di lokasi baru, serta biaya hidup yang dinilai terlalu tinggi dan tidak sebanding dengan penghasilan sebagai P3K,” ungkap Arianto.

Ia menambahkan, hingga saat ini belum ada kebijakan dari pemerintah pusat yang memberikan ruang bagi P3K untuk kembali dipindahkan ke daerah asal atau lokasi yang diinginkan.

Dengan jumlah P3K di Kukar yang mencapai sekitar 8 ribu orang, kebijakan penempatan berbasis kebutuhan dinilai tetap diperlukan untuk menjaga distribusi pegawai. Namun, dalam kondisi tertentu, penempatan tersebut memunculkan konsekuensi yang harus ditanggung langsung oleh pegawai di lapangan.

Situasi ini membuat sebagian P3K memilih mengundurkan diri ketika tidak mampu menyesuaikan diri dengan beban biaya dan jarak penugasan yang baru. (atr/bby)

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Kiboy, Sapi Hampir Satu Ton dari Loa Janan Jadi Kurban Presiden Prabowo

26 Mei 2026 - 18:42 WITA

Sapi kurban presiden

Loa Kulu Jadi Fokus Pangan Murah, Pemkab Kukar Tekan Inflasi Jelang Iduladha

26 Mei 2026 - 18:12 WITA

Gerakan pangan murah loa kulu

Desakan Ketua DPRD Kukar Mundur Sampai ke DPP PDIP

25 Mei 2026 - 17:19 WITA

Ketua DPRD Kukar

Hewan Kurban di Kukar Diberi Tanda Sehat, Pemkab Pastikan Layak Konsumsi

25 Mei 2026 - 14:23 WITA

hewan kurban Kukar

Perjanjian Baru Pasar Tangga Arung Diprotes, Pedagang Soroti Klausul Penarikan Kios

23 Mei 2026 - 16:05 WITA

Pasar tangga arung

Pakar Baca Ucapan “Silakan Hak Angket!” Rudy Mas’ud: Bukan Arogansi, tapi Sinyal Akuntabilitas

23 Mei 2026 - 14:11 WITA

Rudy Mas’ud
Trending di Pemerintahan