Teks foto: Kadis Kesehatan Kukar , Ismi Mufiddah (istimewa)
okeborneo.com,KUTAI KARTANEGARA – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mengalami peningkatan signifikan di tengah kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan yang melanda sejumlah wilayah.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar Ismi Mufiddah mengatakan, berdasarkan pemantauan fasilitas kesehatan, jumlah kasus ISPA terus meningkat dalam tiga bulan terakhir.
“Kalau kita lihat, pada Juni ada 3.703 kasus. Kemudian mulai meningkat di bulan Juli menjadi 7.172 kasus, dan dari 1 sampai 31 Agustus ada 9.075 kasus,” kata Ismi.
Menurutnya, peningkatan kasus tersebut telah dilaporkan kepada Sekretaris Daerah (Sekda) dan Bupati Kukar. Kondisi tersebut juga menjadi salah satu pertimbangan dalam penerbitan surat edaran terkait perlindungan masyarakat di tengah memburuknya kualitas udara.
Tak hanya ISPA, penyakit yang berkaitan dengan kondisi lingkungan dan keterbatasan air bersih juga mengalami peningkatan. Salah satunya diare.
Dinkes Kukar mencatat terdapat 728 kasus diare pada Juni, meningkat menjadi 937 kasus pada Juli, kemudian kembali naik menjadi 1.021 kasus pada Agustus.
“Kemudian untuk diare, pada Agustus ada 1.021 kasus. Kemudian pada Juni 728 kasus dan Juli 937 kasus. Jadi bisa dilihat ada penambahan,” ujarnya.
Peningkatan juga terjadi pada kasus konjungtivitis atau penyakit mata. Pada Juni tercatat 172 kasus, kemudian naik menjadi 212 kasus pada Juli dan mencapai 350 kasus pada Agustus.
Ismi menjelaskan, kekeringan turut menjadi faktor yang memperbesar risiko penyakit, terutama ketika ketersediaan air bersih mulai terbatas. Dinkes menerima laporan dari sejumlah puskesmas mengenai warga yang mengalami kesulitan memperoleh air.
“Beberapa daerah kita mendapat laporan dari teman-teman puskesmas yang mengalami kesulitan air, sampai harus membeli air atau bahkan membuat sumur bor,” jelasnya.
Untuk kasus ISPA, wilayah dengan jumlah kasus tertinggi pada Agustus antara lain Loa Ipuh, Rapak Mahang, Sanga-Sanga, Loa Janan, dan Samboja.
Meski demikian, Ismi menegaskan seluruh kecamatan di Kukar terdampak. Perbedaannya terletak pada jumlah kasus yang tercatat di masing-masing fasilitas kesehatan.
“Kalau kita sebut lima besar pada Agustus, yaitu Loa Ipuh, Rapak Mahang, Sanga-Sanga, Loa Janan, dan Samboja. Sebenarnya semua kecamatan terdampak,” katanya.
Ismi menyebut ISPA memang menjadi salah satu penyakit yang secara rutin mendominasi daftar penyakit di Kukar. Namun, kondisi kabut asap akibat karhutla membuat paparan polusi bertambah sehingga kasus mengalami peningkatan lebih signifikan.
“ISPA itu kalaupun tidak ada karhutla, memang selalu menjadi peringkat pertama dari 10 penyakit terbesar. Penyebabnya bukan hanya kabut asap, tetapi polusi kendaraan juga menjadi salah satu penyebab terbesar,” ujarnya.
Berdasarkan kelompok usia, kasus ISPA paling banyak ditemukan pada kelompok usia produktif 18-59 tahun dengan 3.028 kasus. Berikutnya kelompok usia sekolah 5-18 tahun dengan sekitar 2.950 kasus, sedangkan kasus pada balita tercatat sekitar 1.600 kasus.
Untuk menekan risiko paparan, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak diperlukan. Jika harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat diminta menggunakan perlindungan diri, termasuk masker.
Dinkes juga mengingatkan masyarakat untuk mengurangi paparan asap rokok, tidak melakukan pembakaran sampah, serta menutup pintu dan jendela apabila kondisi udara di sekitar rumah dipenuhi asap pekat.
“Untuk melindungi mata, gunakan kacamata. Jangan lupa menggunakan masker jika berkegiatan di luar ruangan atau di luar rumah agar lebih aman,” pungkas Ismi.(atr)









