Menu

Mode Gelap

DISKOMINFO KUTAI KARTANEGARA · 15 Mei 2024 11:54 WIB

Mengenal Festival Cenil di Desa Kota Bangun III


 TEKS FOTO : Festival Cenil di Desa Kota Bangun III (Istimewa) Perbesar

TEKS FOTO : Festival Cenil di Desa Kota Bangun III (Istimewa)

okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Setiap tahun, menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) desa, festival ini menjadi agenda rutin yang dinanti-nantikan oleh warga Desa Kota Bangun III.

Beragam kreasi cenil dari bahan dasar singkong dipamerkan dan disajikan secara gratis kepada masyarakat. Tradisi ini tidak hanya mempererat ikatan sosial antar warga, tetapi juga menjaga dan melestarikan warisan kuliner serta budaya setempat.

Cenil, dengan teksturnya yang kenyal dan warnanya yang mencolok, melambangkan ketahanan dan adaptasi para transmigran yang pertama kali tiba di desa ini. Mereka menghadapi berbagai tantangan untuk membangun kehidupan baru, dan cenil menjadi simbol dari perjuangan tersebut.

Melalui festival ini, warga desa dapat memperkenalkan kearifan lokal kepada generasi muda dan pengunjung dari luar, memperkuat identitas budaya mereka di tengah arus modernisasi.

Dengan demikian, Festival Cenil di Desa Kota Bangun III lebih dari sekadar perayaan kuliner; ia adalah perwujudan semangat komunitas, kebersamaan, dan keberlanjutan tradisi lokal.

“Kami sedang melestarikan sebuah budaya, kearifan lokal yang pernah ada,” kata Kepala Desa Kota Bangun III, Lilik Hendrawanto, Selasa (14/5/2024).

Di tengah keterbatasan, para transmigran berinovasi mengolah singkong menjadi berbagai hidangan, salah satunya cenil. Tradisi ini kemudian diwariskan turun-temurun, menjadi pengingat perjuangan dan kekompakan para pendahulu.

Festival Cenil tak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga menjadi ajang kreativitas dan promosi potensi desa. Berbagai kreasi cenil yang unik dan menarik dipamerkan, menunjukkan kekayaan budaya dan kuliner Desa Kota Bangun III.

“Harapannya, festival ini bisa menjadi daya tarik wisata dan meningkatkan ekonomi desa,” ujar Lilik.

Festival Cenil menjadi pengingat bagi generasi muda tentang pentingnya menjaga tradisi dan kearifan lokal. Di tengah gempuran modernisasi, nilai-nilai budaya leluhur harus tetap dilestarikan dan ditanamkan kepada generasi penerus.

Pada transmigrasi dulu, hanya tanaman singkong yang mampu bertahan di tanah gersang. Ketika pembukaan lahan baru, mereka hanya menanam singkong untuk bahan makanan sehari-hari, pengganti beras.

Agar anak-anak tidak bosan memakan singkong tiap hari. Para orang tua pun berinisiatif mengolah umbi-umbian menjadi beraneka ragam makanan, salah satunya cenil.

“Supaya anak-anaknya tidak bosan makan singkong, maka orangtuanya mengolah menjadi berbagai macam bentuk dan warna (cenil),” tandasnya. (adv/diskominfokukar/atr/ob1/ef)

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Kantor Kecamatan Kota Bangun Darat Mulai Dibangun Mei 2024

20 Mei 2024 - 15:57 WIB

TEKS FOTO : Pembangunan kantor camat akan direalisasikan dalam waktu dekat.

Loa Kulu Jadi Penerima APBD Terbesar Kukar

20 Mei 2024 - 15:53 WIB

TEKS FOTO : Camat Loa Kulu, Ardiansyah

Tenggarong Seberang Didapuk Jadi Tuan Rumah HKG PKK Tingkat Kabupaten Kukar 2024

20 Mei 2024 - 15:48 WIB

TEKS FOTO :Finalisasi Persiapan HKG di Pendopo Bupati Kukar dipimpin langsung Kadis PMD dan Ketua TP PKK didampingi Camat Tenggarong Seberang. 

Kecamatan Tenggarong Target Pembangunan Wilayah Tercapai Dalam Waktu Dua Tahun

17 Mei 2024 - 14:48 WIB

Camat Tenggarong, Sukono

Potensi Perikanan di Kecamatan Samboja Sangat Menjanjikan

17 Mei 2024 - 14:45 WIB

TEKS FOTO : ILUSTRASI- Hasil perikanan Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara

Tenggarong Seberang Segera Lakukan Pemekaran Wilayah

17 Mei 2024 - 14:40 WIB

Kantor Kecamatan Tenggarong Seberang
Trending di DISKOMINFO KUTAI KARTANEGARA