okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA— Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara kembali menggelar Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) di Gedung A Museum Mulawarman Tenggarong. Kegiatan ini menjadi ajang untuk memperlihatkan kekayaan dan keanekaragaman budaya yang dimiliki Kukar melalui pameran karya, pertunjukan seni, dan berbagai atraksi tradisional.
Kabid Kebudayaan Disdikbud Kukar, Puji Utomo, mengatakan bahwa pameran tahun ini menampilkan berbagai karya hasil tangan kreatif masyarakat dan pelajar dari berbagai wilayah di Kutai Kartanegara.
“Banyak yang ditampilkan, salah satunya karya adik-adik SMA, SMK, perguruan tinggi Katanggara, dan SMP 1. Itu merupakan hasil kerajinan yang mereka pelajari dan buat di sekolah,” ujarnya.
Selain karya seni, pameran juga menghadirkan alat-alat kesenian, alat musik, hingga peralatan produksi tradisional seperti alat pemilangan badi dan teknologi kuno yang masih digunakan oleh masyarakat. Menurut Puji, unsur kebudayaan yang ditampilkan tidak hanya bersifat benda, tetapi juga nilai dan pengetahuan tradisional yang masih hidup hingga kini.
“Kita ingin menunjukkan bahwa budaya tradisional itu bukan sekadar peninggalan, tapi masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat,” tambahnya.
Menariknya, kegiatan ini turut melibatkan sekitar enam hingga tujuh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) serta sejumlah sekolah, termasuk SMP 10 dan SMP 20 yang menampilkan budaya tradisional pupur basah—tradisi perawatan kulit alami yang kini bisa disebut sebagai cikal bakal “skincare” masa kini.
“Kalau sekarang disebut skincare, tapi dulu itu bagian dari tradisi. Kita ingin anak-anak tahu bahwa sejak dulu masyarakat kita sudah punya kearifan lokal yang luar biasa,” kata Puji.
Pekan Kebudayaan Daerah ini digelar hingga 22 Oktober, dengan rangkaian acara yang tak kalah menarik. Selain pameran, pengunjung juga bisa menikmati penampilan musik, pertunjukan seni, dan malam Anugerah Kebudayaan yang akan menjadi puncak acara. Tak hanya itu, beberapa Lembaga Pelestarian Daerah (LPD) turut menghadirkan atraksi budaya dan permainan tradisional, seperti ayunan, yang kembali dihidupkan di area pameran.
Puji berharap kegiatan ini bisa menjadi ruang edukasi bagi generasi muda agar semakin mengenal dan mencintai kebudayaan daerahnya sendiri.
“Kami senang melihat antusiasme anak-anak sekolah. Melalui kegiatan seperti ini, mereka belajar bahwa budaya kita itu bagus, berharga, dan tidak kalah dengan budaya luar. Semua kebudayaan kita menarik untuk dilestarikan,” tutupnya penuh semangat. (adv/prokomkukar/atr)








