Menu

Mode Gelap

Pos-pos Terbaru · 27 Jan 2026 09:22 WITA

Renungan Tengah Malam, Peristiwa Merah Putih Sangasanga Diperingati di TMP Wadah Batuah


Sekda Kukar Sunggono memimpin Renungan Suci memperingati Peristiwa Merah Putih Sangasanga di TMP Wadah Batuah, Selasa (27/1/2026) dini hari. (Angga/okeborneo.com) Perbesar

Sekda Kukar Sunggono memimpin Renungan Suci memperingati Peristiwa Merah Putih Sangasanga di TMP Wadah Batuah, Selasa (27/1/2026) dini hari. (Angga/okeborneo.com)

okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Tepat ketika jarum jam menunjuk pukul 00.00 Wita, suasana Taman Makam Pahlawan (TMP) Wadah Batuah, Kelurahan Jawa, Kecamatan Sangasanga, seketika larut dalam keheningan yang khidmat. Selasa (27/1/2026) dini hari itu, hanya cahaya lampu temaram dan derap langkah pelan para peserta yang memecah sunyi.

Di tempat inilah, di antara nisan-nisan para pejuang, Renungan Suci digelar untuk mengenang Peristiwa Perjuangan Merah Putih Sangasanga ke-79—sebuah babak heroik yang mengukir sejarah penting bagi Kalimantan Timur dan Republik Indonesia.

Sekretaris Daerah Kutai Kartanegara, Sunggono, hadir mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja putih dan dasi merah, berdiri sejajar dengan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah. Tampak pula Komandan Kodim 0906/Kutai Kartanegara Letkol Arm Benny Budiman, S.A.P., Wakapolres Kukar Kompol Izdiharuddin Faris Raharja Putra, Kapolsek Sanga-Sanga AKP Muhamad Zulhijah, Camat Sanga-Sanga M. Dachriansyah, S.Sos., M.Si., serta para kepala organisasi perangkat daerah. Unsur TNI dan Polri hadir dengan pakaian dinas upacara, menambah nuansa formal dan sakral.

TMP Wadah Batuah bukan sekadar taman makam. Di sanalah bersemayam satu anggota angkatan bersenjata dan 74 pejuang rakyat yang gugur dalam Peristiwa Merah Putih Sangasanga. Nama-nama yang terukir di nisan menjadi saksi bisu pengorbanan, tentang darah yang tertumpah demi tegaknya Merah Putih di tanah Sangasanga.

Wilayah ini memang menyimpan jejak sejarah panjang. Sangasanga, yang berjarak sekitar 59,4 kilometer dari Tenggarong, dikenal sebagai salah satu daerah penghasil minyak bumi tertua di Indonesia. Sejak beroperasinya sumur minyak Louise pada 1897, kawasan ini menjadi rebutan berbagai kepentingan, termasuk pada masa kolonial.

Pasca-Proklamasi Kemerdekaan 1945, Sangasanga kembali diduduki tentara NICA. Kondisi itu menyulut amarah dan perlawanan rakyat yang menolak kembalinya penjajahan. Melalui rapat-rapat rahasia dan perencanaan matang, para pejuang menyusun strategi, termasuk merebut persenjataan musuh.

Puncak perlawanan terjadi pada 26 Januari 1947. Dengan memanfaatkan keramaian kesenian daerah sebagai pengalihan perhatian, serangan terkoordinasi dilancarkan sejak pukul 03.00 Wita. Enam jam kemudian, tepat pukul 09.00 Wita, Kota Sangasanga berhasil dikuasai. Bendera Belanda diturunkan oleh La Hasan, lalu dikibarkan kembali Merah Putih setelah bagian birunya disobek. Pekikan “Merdeka” menggema, menandai kemenangan dan kedaulatan rakyat.

Dalam suasana renungan, Sekda Kukar Sunggono menyampaikan rasa syukur atas konsistensi peringatan yang terus dilaksanakan setiap tahun.

“Kita patut bersyukur bahwa kegiatan ini bisa berjalan dengan baik dan kembali setiap tahun kita memperingatinya,” ujarnya lirih namun tegas.

Ia menekankan bahwa peringatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan pengingat akan amanah besar yang diwariskan para pejuang.

“Sebagai penerus perjuangan bangsa ini, kita tetap berkomitmen untuk melaksanakan dan menerima amanah dari para pejuang kita,” kata Sunggono.

Amanah itu, lanjutnya, adalah menjaga dan mempertahankan hasil perjuangan agar tidak hilang ditelan zaman.

“Termasuk mengupayakan bahwa apa yang telah para pejuang kita rebut dapat kita pertahankan sampai akhir zaman,” tuturnya.

Sunggono juga menyoroti keterlibatan generasi muda. Meski tidak seluruhnya terlihat dalam apel renungan suci, ia menilai peran anak muda justru sangat nyata dalam rangkaian kegiatan lainnya.

“Mereka ikut napak tilas tadi, yang hampir seluruhnya generasi muda,” jelasnya.

Napak tilas tersebut, menurutnya, menjadi simbol bagaimana generasi muda menapaki kembali jalan sejarah yang pernah dilalui para pahlawan.

“Mereka mengulang kembali jalan yang pernah dilalui oleh para pahlawan ketika memperebutkan dan mempertahankan Sangasanga ini di masa lalu,” katanya.

Renungan suci di tengah malam itu ditutup dengan doa bersama. Di bawah langit Sangasanga yang sunyi, doa-doa dipanjatkan sebagai pengikat ingatan dan harapan—bahwa nilai perjuangan Peristiwa Merah Putih Sangasanga akan terus hidup, dijaga, dan diwariskan lintas generasi.

“Mudah-mudahan semangat mereka juga terus bisa tumbuh untuk mempertahankan negara dan budaya yang kita cintai,” pungkas Sunggono. (atr)

Artikel ini telah dibaca 15 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Harus Tinggalkan Rumah hingga Sewa Tempat Baru, P3K Kukar Pilih Resign

16 April 2026 - 18:46 WITA

P3K Kukar

Petani Sangasanga Tak Lagi Jual Murah, Koperasi Baru Disiapkan Jadi Gudang Distribusi

16 April 2026 - 13:55 WITA

koperasi sangasanga

Dibayar Rp800 Ribu, Kurir Sabu 1,5 Kg di Kukar Terancam Seumur Hidup

15 April 2026 - 17:07 WITA

sabu kukar

Dibangun Rp23 Miliar, Kini Dipenuhi Semak dan Aktivitas Negatif, Ini Kondisi Taman Replika Tenggarong

15 April 2026 - 17:03 WITA

Taman replika Tenggarong

PHK Tanpa Gaji dan Pesangon, Ratusan Pekerja Tambang di Kukar Diduga Jadi Korban

14 April 2026 - 17:53 WITA

4.647 Peserta PBI Dialihkan ke Kabupaten, Kukar Pertanyakan Kebijakan Pemprov

14 April 2026 - 15:01 WITA

PBI Kukar
Trending di Pos-pos Terbaru