Menu

Mode Gelap

Pendidikan · 18 Mei 2026 19:09 WITA

Sultan AM Idris Didorong Masuk Muatan Lokal, Generasi Muda Kukar Diajak Kenal Sejarah Kutai


Foto bersama narasumber dan panitia seusai Forum Diskusi Publik Harbuknas dan Harkitnas 2026 tentang keteladanan Sultan Aji Muhammad Idris di Tangga Arung Square, Tenggarong. (Dokumen SMSI Kukar) Perbesar

Foto bersama narasumber dan panitia seusai Forum Diskusi Publik Harbuknas dan Harkitnas 2026 tentang keteladanan Sultan Aji Muhammad Idris di Tangga Arung Square, Tenggarong. (Dokumen SMSI Kukar)

okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA — Sejarah Sultan Aji Muhammad Idris dinilai perlu lebih dekat dengan generasi muda Kutai Kartanegara. Dalam Forum Diskusi Publik Harbuknas dan Harkitnas 2026 di Tangga Arung Square, Tenggarong, Senin (18/5/2026), keteladanan pahlawan nasional asal Kutai itu didorong masuk ke ruang pendidikan dan literasi sejarah lokal.

Forum bertajuk “Pahlawan Nasional Sultan Aji Muhammad Idris; Spirit Masa Silam dan Teladan Masa Kini” tersebut menghadirkan budayawan Kalimantan Timur Muhammad Sarip, Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri, serta Pemuda Pelopor Kaltim 2024 bidang pendidikan, Ada Al Ali Murrabbaniah.

Kegiatan yang diselenggarakan Lasaloka KSB bersama SMSI Kutai Kartanegara itu diikuti pelajar, mahasiswa, jurnalis, komunitas literasi, hingga sejumlah organisasi perangkat daerah di lingkungan Pemkab Kukar. Diskusi dipandu praktisi media Kalimantan Timur, Ricardo Bobby Lolowang.

Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan, sejarah Sultan AM Idris perlu terus dikenalkan kepada pelajar. Menurutnya, muatan lokal di sekolah harus memberi ruang lebih besar bagi tokoh sejarah Kutai agar generasi muda memahami akar identitas daerahnya.

“Saya sepakat nama beliau harus terus digaungkan. Muatan lokal di sekolah juga harus bicara tentang Sultan Aji Muhammad Idris supaya anak-anak bangga mengatakan mereka cucu Sultan Aji Muhammad Idris,” ujar Aulia.

Aulia mengaku memiliki kedekatan emosional dengan sosok Sultan AM Idris setelah mempelajari sejarah perjuangannya melalui buku pengusulan gelar pahlawan nasional.

Menurutnya, keberanian Sultan AM Idris meninggalkan kenyamanan sebagai pemimpin kerajaan untuk membantu perlawanan terhadap VOC menjadi nilai penting yang masih relevan bagi generasi muda hari ini.

“Beliau sebenarnya memiliki zona nyaman yang luar biasa. Tapi ketika diminta membantu melawan VOC, beliau meninggalkan semuanya demi membela tanah kelahirannya,” kata Aulia.

Aulia menilai generasi muda Kukar perlu meneladani keberanian tersebut dalam konteks masa kini. Tantangan yang dihadapi hari ini bukan lagi penjajahan fisik, melainkan persaingan masa depan, pendidikan, kemampuan kerja, dan penguatan identitas daerah.

“Hari ini kita memang tidak berperang melawan penjajah, tapi kita berperang melawan masa depan,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun rasa bangga terhadap sejarah lokal. Menurutnya, anak muda Kukar tidak boleh tumbuh dengan perasaan minder terhadap asal-usul daerahnya.

“Kalau bahasa orang dulu jangan ekstra kecoka, jangan minder,” ucapnya.

Sebagai bentuk penguatan identitas sejarah Kutai, Pemkab Kukar mulai mengabadikan nama Sultan AM Idris pada sejumlah fasilitas publik, termasuk rumah sakit daerah.

Aulia menyebut Kutai Kartanegara memiliki posisi penting dalam sejarah Kalimantan Timur. Karena itu, sejarah lokal dinilai harus terus diperkenalkan kepada generasi muda melalui ruang pendidikan, literasi, dan kegiatan kebudayaan.

Di sisi lain, budayawan Kalimantan Timur Muhammad Sarip menjelaskan, Sultan AM Idris bukan hanya tokoh Kesultanan Kutai Kartanegara. Menurutnya, Sultan AM Idris memiliki jejak perjuangan yang melampaui Kalimantan Timur.

“Sultan Aji Muhammad Idris adalah tokoh pejuang, dengan jejak sejarah membantu Sultan Wajo berperang melawan VOC, sebuah perusahaan dagang yang ingin merampas kedaulatan Nusantara pada abad ke-18,” ujar Sarip.

Sarip menyebut terdapat tiga aspek keteladanan Sultan AM Idris, yakni sebagai tokoh kultural Kutai, pejuang anti-penjajahan, dan tokoh dakwah Islam yang inklusif.

Menurutnya, kepemimpinan Sultan AM Idris membuktikan bahwa Tanah Kutai sejak lama melahirkan tokoh dengan pengaruh besar bagi Nusantara.

“Beliau juga merupakan tokoh intelektual Islam. Ada riwayat yang menyatakan kitab konstitusi kesultanan Panji Salatin hingga Undang-Undang Beraja Nanti disusun pada masa Sultan Aji Muhammad Idris,” jelasnya.

Sarip juga menyinggung luasnya wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara pada masa lalu. Menurutnya, sejumlah daerah yang kini berkembang di Kalimantan Timur pernah berada dalam wilayah historis Kesultanan Kutai.

“Ketika bicara Balikpapan, Samarinda, Bontang, Kutai Timur, Kutai Barat, bahkan kawasan IKN, itu dahulu bagian dari wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara,” tegasnya.

Sementara itu, Ada Al Ali Murrabbaniah atau Alda menilai keteladanan Sultan AM Idris dapat diterjemahkan oleh generasi muda melalui perjuangan di bidang masing-masing.

Menurutnya, nilai kepemimpinan tidak selalu hadir dalam bentuk jabatan besar. Anak muda dapat meneladaninya melalui pendidikan, kreativitas, kepedulian sosial, dan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitar.

“Saya yakin pemuda-pemuda lain dapat menerapkan jiwa kepemimpinan yang sama dengan Sultan Aji Muhammad Idris dalam kehidupannya,” tutur Alda.

Ketua SMSI Kukar Angga Triandi berharap forum tersebut dapat membuka wawasan generasi muda mengenai sejarah Sultan AM Idris sebagai pahlawan nasional asal Kutai dan Kalimantan Timur.

Menurutnya, literasi sejarah lokal perlu diperkuat agar generasi muda tidak hanya mengenal tokoh nasional dari luar daerah, tetapi juga memahami jejak perjuangan yang lahir dari tanahnya sendiri.

“Dari Sultan Aji Muhammad Idris memiliki nilai perjuangan dan kepemimpinan yang masih relevan sampai hari ini. Apalagi kita masih dalam semangat Hari Kebangkitan Nasional, literasi ini yang mesti diterapkan kepada pemuda zaman sekarang,” katanya.

Di akhir kegiatan, narasumber menerima plakat berbahan hasil daur ulang yang dibuat Gerakan Penggiat Daur Ulang Sampah Kukar bersama EO Sinar Intan. Simbol tersebut menjadi pesan bahwa pelestarian sejarah dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan.

Kegiatan itu turut didukung Bankaltimtara, SKK Migas, dan Pertamina Hulu Mahakam.

Forum literasi publik tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kembali ingatan masyarakat terhadap Sultan Aji Muhammad Idris. Melalui pendidikan dan literasi sejarah lokal, keteladanan Sultan AM Idris diharapkan tidak berhenti sebagai nama pahlawan nasional, tetapi ikut hidup dalam kesadaran generasi muda Kukar. (atr/bby)

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Sultan AM Idris Disiapkan Masuk Sekolah di Kukar, Materi Disesuaikan dari PAUD hingga SMP

18 Mei 2026 - 19:35 WITA

Sultan AM Idris

Kasat Resnarkoba Kukar Berpotensi PTDH, Propam Polda Kaltim Siapkan Sidang Etik

18 Mei 2026 - 18:36 WITA

Kasat Resnarkoba Kukar

Kasat Resnarkoba Kukar Jadi Tersangka, Polisi Sebut Ada 100 Paket Liquid Etomidate

18 Mei 2026 - 18:07 WITA

Kasat Resnarkoba Kukar

Warga Loa Bakung Tagih Kepastian Lahan Setelah 30 Tahun, Rudy Siapkan Kajian Hukum

18 Mei 2026 - 16:04 WITA

Loa bakung

Kasat Narkoba Kukar Diperiksa Terkait Dugaan Narkoba, Kapolda Tegaskan Zero Tolerance

16 Mei 2026 - 13:57 WITA

Kasat Narkoba Kukar

Kasus Asusila Anak di Kembang Janggut Dikembangkan, Polisi Dalami Dugaan Korban Lain

15 Mei 2026 - 19:13 WITA

kasus asusila anak Kembang Janggut
Trending di Hukum - Kriminal