Menu

Mode Gelap

Ekonomi · 13 Apr 2026 20:14 WITA

Tanpa Naik Harga, Tempe di Tenggarong Diam-Diam Mengecil


Kedelai sebagai bahan baku utama tempe mengalami kenaikan harga sejak awal 2026, mendorong pengrajin di Tenggarong menyiasati produksi dengan mengecilkan ukuran tanpa menaikkan harga. (angga/okeborneo.com) Perbesar

Kedelai sebagai bahan baku utama tempe mengalami kenaikan harga sejak awal 2026, mendorong pengrajin di Tenggarong menyiasati produksi dengan mengecilkan ukuran tanpa menaikkan harga. (angga/okeborneo.com)

okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Tanpa menaikkan harga jual, sebagian pengrajin tempe di Tenggarong mulai mengecilkan ukuran produk mereka. Cara ini dipilih agar tetap bertahan di tengah kenaikan biaya produksi yang terus terjadi sejak awal 2026.

Perubahan tersebut diakui langsung oleh Ilham, produsen tempe di Kelurahan Maluhu. Ia menyebut ukuran tempe yang dipasarkan saat ini lebih kecil dibanding sebelumnya, sebagai konsekuensi dari lonjakan harga bahan baku.

Harga kedelai yang semula berada di kisaran Rp500 ribu per karung kini naik menjadi sekitar Rp575 ribu. Kenaikan juga terjadi pada bahan pendukung seperti plastik kemasan, yang turut menambah beban biaya produksi.

Menurut Ilham, menaikkan harga jual bukan pilihan mudah. Ia khawatir langkah itu justru membuat pembeli beralih atau mengurangi konsumsi.

“Kalau harga dinaikkan, pembeli bisa berkurang. Jadi kami siasati dengan mengecilkan ukuran, walaupun dampaknya ke keuntungan,” ujarnya.

Dalam kondisi tersebut, Ilham tetap mempertahankan produksi sekitar satu karung kedelai per hari. Namun, margin keuntungan yang diperoleh kini jauh lebih tipis dibanding sebelumnya.

Saat ini, harga tempe di tingkat agen masih bertahan di kisaran Rp5.000 untuk tiga potong, sebelum dijual kembali oleh pedagang dengan harga yang bervariasi di tingkat konsumen.

Pilihan untuk mengecilkan ukuran menjadi jalan tengah yang diambil pengrajin agar usaha tetap berjalan tanpa harus kehilangan pelanggan. Namun, langkah ini juga mencerminkan tekanan yang dihadapi pelaku usaha kecil di tengah kenaikan biaya produksi.

Kondisi tersebut membuat para pengrajin berharap adanya upaya stabilisasi harga bahan baku, terutama kedelai, agar usaha yang mereka jalankan tetap bertahan dalam jangka panjang. (atr/bby)

Artikel ini telah dibaca 45 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Kebakaran Jalan Pesut Kukar, Damkar Kerahkan Tujuh Unit dan Kuasai Api dalam 20 Menit

4 September 2026 - 21:47 WITA

Dana Kurang Salur Rp2,4 Triliun Belum Pasti Cair, Pemkab Kukar Koreksi APBD Perubahan 2026

4 September 2026 - 17:58 WITA

Kasus ISPA di Kukar Melonjak, Tembus 9.075 Kasus Selama Agustus

4 September 2026 - 15:40 WITA

PJJ Mulai Diterapkan Hari Ini di Sejumlah Wilayah Kukar, Sekolah Diberi Fleksibilitas

3 September 2026 - 14:28 WITA

Kukar Berlakukan PJJ untuk PAUD, SD, dan SMP Mulai 3 September Imbas Karhutla dan Kekeringan

2 September 2026 - 18:40 WITA

Kemarau Panjang, Kukar Gelar Salat Istisqa: Bupati Sebut Kekeringan hingga Asap Jadi Ancaman

2 September 2026 - 12:20 WITA

Trending di Pos-pos Terbaru