okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA — Sebanyak 116 mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Kutai Kartanegara turun ke Desa Bhuana Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, untuk mendampingi pelaku UMKM melalui Bakti Kerja Mahasiswa 2026.
Kegiatan yang berlangsung pada 6-9 Mei 2026 itu difokuskan pada penguatan ekonomi lokal. Mahasiswa melakukan pendampingan mulai dari pemetaan potensi usaha, pengelolaan keuangan sederhana, hingga strategi pemasaran digital.
BKM 2026 mengusung tema “Sinergi Mahasiswa, Masyarakat, dan UMKM dalam Penguatan Ekonomi Lokal”. Kegiatan ini melibatkan Dinas Koperasi dan UKM, Pemerintah Desa Bhuana Jaya, BUMDes, serta pelaku UMKM setempat.
Ketua BEM FEB Unikarta, Dani Putra Setyawan, mengatakan Desa Bhuana Jaya dipilih karena memiliki potensi produk lokal yang besar. Namun, potensi tersebut masih membutuhkan inovasi dan pendampingan agar dapat menjangkau pasar lebih luas.
“Kegiatan BKM ini berlandaskan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. BKM menjadi wadah praktik nyata bagi mahasiswa untuk terjun langsung ke masyarakat dalam merencanakan dan melaksanakan program kerja,” ujar Dani.
Menurut Dani, mahasiswa perlu dibiasakan menghadapi persoalan riil di masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dilatih memahami tantangan pengembangan ekonomi lokal, terutama di sektor UMKM dan kewirausahaan.
Ia menyebut BKM juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan menyelesaikan masalah, bekerja dalam tim, dan berinteraksi langsung dengan masyarakat desa.
Pendampingan UMKM dalam kegiatan itu turut diperkuat melalui seminar pengembangan usaha. Tenaga Ahli Pendamping UMKM, Muhammad Miftah, memberikan materi mengenai branding, peluang pemasaran, legalitas usaha, hingga akses permodalan.
Materi legalitas yang disampaikan mencakup Nomor Induk Berusaha atau NIB, sertifikasi halal, dan PIRT. Menurut Miftah, pemahaman terhadap aspek tersebut penting agar pelaku UMKM dapat mengelola usaha secara lebih tertib dan memiliki peluang berkembang.
“Kami ingin membuka pola pikir mahasiswa dan pelaku UMKM agar mampu melihat persoalan usaha secara menyeluruh sehingga dapat menemukan solusi yang tepat agar UMKM bisa naik kelas dan berkembang,” jelas Miftah.
Selain pengembangan usaha dan legalitas, BKM 2026 juga membahas pemasaran digital. Materi tersebut disampaikan Indah Yulita Sari dari FKP Kukar.
Dalam pemaparannya, Indah menekankan pentingnya pemanfaatan media sosial dan konten kreatif untuk memperluas jangkauan pasar produk UMKM. Strategi tersebut dinilai relevan bagi pelaku usaha desa yang ingin mengenalkan produk secara lebih luas.
Pemerintah Desa Bhuana Jaya menyambut positif kegiatan tersebut. Sekretaris Desa Bhuana Jaya, Heriansyah, menilai pendampingan mahasiswa dapat membantu pelaku UMKM memperbaiki kualitas produk, kemasan, dan promosi usaha.
Direktur BUMDes Desa Bhuana Jaya, Panji Dian Djatmiko, juga menilai kegiatan tersebut dapat mendukung pemberdayaan ekonomi desa. Menurutnya, persoalan UMKM tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga literasi keuangan, pemanfaatan potensi desa, dan kelengkapan administrasi usaha.
“Selain membantu masyarakat, kegiatan ini juga penting untuk meningkatkan soft skills mahasiswa, seperti empati sosial, kepemimpinan, kerja sama tim, dan kemampuan menyelesaikan masalah,” katanya.
BKM 2026 menjadi ruang kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, DiskopUKM, BUMDes, dan pelaku UMKM di Desa Bhuana Jaya. Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha lokal melalui pendampingan yang menyentuh aspek pengelolaan usaha, legalitas, branding, dan pemasaran digital. (atr/bby)








