Okeborneo.com, Samarinda – Menjelang waktu berbuka, suasana sebuah kafe di Kota Samarinda terasa hangat. Bukan hanya karena aroma hidangan yang mulai tersaji di meja, tetapi juga karena tawa dan cerita yang saling bersahutan di antara mereka yang duduk berhadapan.
Satu per satu anggota komunitas Kesahmati datang, menyalami teman-teman lama yang mungkin jarang ditemui karena kesibukan masing-masing. Ada yang kini menjadi pekerja profesional, ada yang menjalankan usaha, dan ada pula yang meniti karier di bidang lainnya. Namun ketika duduk bersama menjelang azan magrib, semua kembali pada satu identitas yang sama: saudara.
Di bulan Ramadan, momen seperti ini terasa lebih bermakna.
Buka puasa bersama yang mereka gelar pada Jumat (13/3/2026) itu bukan sekadar agenda tahunan. Ia menjadi ruang untuk menghidupkan kembali kenangan masa lalu, sekaligus merawat persaudaraan yang telah terjalin sejak mereka masih belia.
Obrolan yang mengalir ringan sering kali membawa mereka kembali ke masa-masa lama—saat kebersamaan masih sederhana, ketika bermain bersama menjadi rutinitas, dan persahabatan tumbuh tanpa banyak rencana.
Dari pertemanan masa kecil itulah, sebuah ikatan perlahan tumbuh menjadi komunitas yang mereka kenal hari ini sebagai Kesahmati.
Salah seorang anggota, Donny SN, mengatakan bahwa kegiatan buka puasa bersama selalu menjadi momen yang dinanti setiap Ramadan. Bagi mereka, pertemuan seperti ini bukan sekadar berkumpul, melainkan cara menjaga hubungan yang telah terbangun selama bertahun-tahun.

“Ramadan selalu menjadi waktu yang tepat untuk kembali berkumpul. Di sini kami menjaga kebersamaan dan mempererat persaudaraan,” ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, anggota Kesahmati kini menapaki jalan hidup yang berbeda-beda. Latar belakang profesi mereka pun semakin beragam. Namun perbedaan itu justru memperkaya cerita setiap kali mereka bertemu.
Di tengah percakapan, ada yang berbagi kisah tentang pekerjaan, keluarga, hingga perjalanan hidup masing-masing. Semuanya menyatu dalam suasana hangat yang terasa akrab.
Kesahmati, bagi mereka, bukan hanya sekadar nama komunitas. Ia adalah ruang untuk tetap pulang—tempat di mana persahabatan lama tetap menemukan jalannya untuk bertahan.
Hal itu pula yang disampaikan Budi DP. Menurutnya, menjaga silaturahmi di tengah kesibukan hidup bukan perkara mudah. Namun melalui pertemuan sederhana seperti buka puasa bersama, ikatan itu bisa terus dirawat.
“Kesahmati punya nilai persaudaraan yang kuat. Momen seperti ini membuat kita tetap terhubung, meski waktu terus berjalan,” katanya.
Budi menjelaskan, nama Kesahmati mulai disepakati pada 2010. Dari sekadar perkumpulan teman bermain, komunitas itu kemudian berkembang menjadi wadah persaudaraan yang kini telah berjalan selama 16 tahun.
Bagi mereka, perjalanan waktu justru mempertegas satu hal: persahabatan yang dirawat akan selalu menemukan cara untuk bertahan.
Di penghujung pertemuan malam itu, setelah azan magrib berkumandang dan hidangan berbuka dinikmati bersama, suasana terasa semakin hangat. Ada rasa syukur yang sederhana, namun tulus—karena masih bisa duduk bersama, berbagi cerita, dan merawat ikatan yang telah berjalan lebih dari satu dekade.
“Harapannya, saudara-saudara di Kesahmati bisa terus bermanfaat bagi masyarakat dan berkembang di profesi masing-masing. Semoga perkumpulan ini tetap menjadi tempat kita bersilaturahmi sampai akhir hayat,” ujar Budi.
Di meja buka puasa itu, Ramadan sekali lagi mengingatkan mereka bahwa persaudaraan—seperti halnya iman—perlu dijaga, dipelihara, dan dirawat dari waktu ke waktu. (pep)









