okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA — Sosok raja yang didekatkan dengan Presiden Prabowo Subianto menjadi salah satu pusat perhatian dalam lakon “Ibu Negara” yang dipentaskan Teater MetaKarsa di Taman Ladang Budaya, Tenggarong.
Melalui pendekatan metateater dan roh Mamanda, pertunjukan tersebut membawa kegelisahan sosial ke atas panggung. Kritik terhadap kekuasaan, jarak antara data dan suara rakyat, hingga relasi penguasa dan pengusaha dihadirkan dalam format yang komunikatif.
Peran raja dalam pementasan itu dimainkan oleh Dedi Nala Arung. Ia mengaku harus melakukan observasi khusus untuk membangun karakter, mulai dari cara berjalan, gestur, gaya memberi hormat, hingga tekanan dalam pidato.
“Raja ini memang didekatkan dengan tokoh presiden. Sampai ke cara berjalannya yang agak kencang, saya harus ingat. Itu semua saya pelajari dengan mengulang-ulang pidatonya, bagaimana dia bersalaman, bagaimana dia menghormati orang, dan bagaimana apa pun yang dilakukan Pak Prabowo,” ujar Dedi usai pementasan.
Menurut Dedi, proses pendalaman karakter berlangsung intens. Dalam beberapa hari menjelang pertunjukan, ia mempelajari berbagai rekaman pidato Presiden Prabowo untuk menangkap gaya bicara dan tekanan dalam setiap kalimat.
“Tantangannya justru pada tekanan dialog. Kalau Pak Presiden berpidato tidak selalu tinggi nadanya, kadang datar tetapi tekanannya kuat. Nah, itu yang cukup sulit untuk ditiru,” katanya.
Dedi menilai karakter tersebut menjadi tantangan tersendiri. Sebab, belum banyak referensi tokoh teater yang memerankan figur dengan karakter serupa.
“Kalau Soeharto dulu pernah dimainkan Butet Kertaradjasa, jadi ada referensinya. Kalau Pak Prabowo belum pernah ada yang mencoba seperti ini. Jadi ini semacam percobaan,” ungkapnya.
Selain memainkan sosok raja, para pemain juga dituntut berpindah karakter di atas panggung. Format metateater membuat aktor tidak hanya bertahan dalam satu peran, tetapi juga harus keluar dari karakter, masuk ke karakter lain, lalu kembali berhadapan langsung dengan penonton.
“Tiba-tiba keluar dari karakter raja menjadi tokoh lain, lalu kembali lagi. Jadi harus bisa melompat-lompat karakter dan kemudian kembali menjadi diri sendiri di depan penonton,” jelasnya.
Sementara itu, sutradara sekaligus penulis naskah “Ibu Negara”, Ab Asmarandana atau Kang Abuy, mengatakan karya tersebut lahir dari kegelisahannya melihat perubahan sosial yang berlangsung cepat.
Ia menyaksikan berbagai kebijakan pemerintah datang silih berganti, sementara dampaknya ikut terasa dalam kehidupan masyarakat.
“Melihat fenomena yang ada, saya merasakan dan mengalami beberapa hal. Yang terbaru adalah bagaimana kebijakan-kebijakan pemerintah berlangsung begitu cepat, sehingga perubahan-perubahan juga terjadi sangat cepat,” ujarnya.
Kang Abuy mengatakan kegelisahan itu tidak berhenti sebagai keluhan pribadi. Sebagai seniman teater dan penulis naskah, ia kemudian mengolahnya menjadi kerangka cerita.
Dalam prosesnya, ia tidak hanya berangkat dari pemberitaan atau data. Ia juga mendengar langsung keluhan masyarakat dari berbagai ruang percakapan, mulai dari warung kopi, pelaku usaha, hingga sopir.
“Hampir semua keluhan yang saya dapatkan, baik di Jawa maupun di sini, dari barista, pemilik usaha, sampai sopir. Mereka mengeluh situasi sekarang. Sementara ketika melihat berita, yang muncul justru angka-angka kenaikan. Nah, kita percaya data atau percaya rakyat?” ujarnya.
Pertanyaan tersebut kemudian menjadi salah satu fondasi penting dalam naskah “Ibu Negara”. Kang Abuy tidak menempatkannya sebagai jawaban tunggal, tetapi sebagai ruang refleksi bagi penonton untuk membaca kembali realitas sosial yang mereka hadapi.
Dalam pementasan itu, salah satu simbol yang menonjol adalah mikrofon. Bagi Kang Abuy, mikrofon bukan sekadar alat bicara, tetapi juga simbol kuasa.
“Mic itu berbahaya, apalagi di tangan penguasa. Karena sekarang penguasa ya pengusaha, pengusaha ya penguasa. Dengan kondisi yang terjadi saat ini, mic itu berbahaya,” tegasnya.
Kang Abuy menjelaskan, “Ibu Negara” digarap dengan pendekatan metateater. Strategi dramaturgi itu digunakan untuk membongkar batas antara pemain dan penonton, sehingga pesan pertunjukan terasa lebih dekat dan langsung.
“Saya ingin merangkul penonton dengan teks yang sebenarnya sudah mereka kenal. Karena itu harus ada pembobolan dinding keempat atau fourth wall. Tujuannya agar karya ini menjadi lebih komunikatif,” katanya.
Meski tampil dengan kemasan modern, Kang Abuy menegaskan pertunjukan tersebut tetap berpijak pada tradisi lokal. Menurutnya, “Ibu Negara” dapat dibaca sebagai Mamanda yang dihadirkan dalam bentuk lebih ringkas dan relevan dengan situasi hari ini.
“Ini sebenarnya Mamanda yang dikemas secara modern. Mamanda yang dipotong pendek. Tapi rohnya tetap roh tradisi, karena saya percaya kita punya akar budaya yang hebat,” pungkasnya.
Lewat “Ibu Negara”, Teater MetaKarsa tidak hanya menghadirkan pertunjukan panggung, tetapi juga membaca ulang tradisi Mamanda sebagai ruang kritik sosial. Dari karakter raja, suara rakyat, hingga simbol mikrofon, pementasan ini menempatkan teater sebagai medium untuk membicarakan kekuasaan dan kehidupan sehari-hari. (atr/bby)








