okeborneo.com,KUTAI KARTANEGARA – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menggelar salat istisqa dan doa bersama di halaman Kantor Bupati Kukar sebagai ikhtiar menghadapi kemarau panjang yang memicu kekeringan, kesulitan air bersih, hingga meningkatnya ancaman kebakaran lahan.
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan, salat istisqa tersebut dilaksanakan bersama masyarakat sebagai bentuk ikhtiar agar hujan segera turun di seluruh wilayah Kabupaten Kukar.
“Harapan kita, dengan melaksanakan salat ini, segera diturunkan hujan di Kabupaten Kutai Kartanegara, di seluruh penjuru Kabupaten Kutai Kartanegara,” ujar Aulia.
Menurutnya, doa bersama tidak hanya dilakukan umat Muslim. Umat dari agama lain juga turut berdoa dengan tujuan yang sama, yakni berharap hujan segera turun untuk mengakhiri dampak kemarau panjang.
Aulia menyebut kemarau telah menimbulkan sejumlah persoalan di Kukar. Selain kekeringan, beberapa wilayah mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi tersebut juga berdampak terhadap sektor pertanian karena sejumlah sawah tidak lagi mendapatkan pasokan air seperti biasanya.
“Kita melihat terjadi bencana kebakaran, terjadi kesulitan air bersih di beberapa titik, dan sawah-sawah kita juga tidak teraliri air sebagaimana biasanya atau sebagaimana mestinya,” katanya.
ISPU Kukar Masih 100-150
Di tengah kondisi tersebut, Aulia juga meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kualitas udara akibat kabut asap yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Timur.
Ia mengatakan, berdasarkan pemantauan yang ada, angka Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di wilayah Kukar berada pada kisaran 100 hingga 150.
“Kalau ISPU, sebenarnya di Kukar itu kalau dibanding dengan kabupaten-kabupaten lain di Kaltim, kita lumayan bagus. Di tempat kita, kita masih di angka 100-150,” ujarnya.
Aulia menjelaskan, alat pemantau kualitas udara yang menjadi rujukan untuk sejumlah wilayah Kukar berada di kawasan yang terintegrasi dengan pemantauan wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN), termasuk di Muara Jawa, Senipah, dan Samboja.
Sementara itu, wilayah hulu Kukar turut dipengaruhi kondisi udara dari daerah sekitarnya. Menurut Aulia, kualitas udara cenderung lebih buruk di wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Kutai Barat, kemudian semakin membaik ke arah perkotaan.
Meski demikian, Aulia tetap mengimbau masyarakat menggunakan alat pelindung diri berupa masker ketika beraktivitas di luar ruangan.
“Karena memang angkanya ini sudah di atas 50, maka kami menyarankan kepada seluruh warga masyarakat untuk menggunakan alat pelindung diri berupa masker ketika berada di luar ruangan,” katanya.
Titik Api di Samboja-Muara Jawa Dipadamkan
Pemkab Kukar juga terus melakukan mitigasi terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di wilayah yang sebelumnya sempat ditemukan titik api.
Aulia menyebut titik api sempat muncul di wilayah Samboja dan Muara Jawa. Pemerintah bersama pihak terkait kemudian melakukan upaya pemadaman.
“Memang di daerah Samboja, Muara Jawa sempat terjadi titik api, maka kita melakukan pemadaman di sana dan hari ini kami mendapatkan laporan zero titik api di sana,” ucapnya.
Meski titik api telah dinyatakan nihil di wilayah tersebut, pemantauan tetap dilakukan. Sebab, Kukar masih berpotensi terdampak asap yang berasal dari kebakaran di wilayah kabupaten/kota lain.
“Ini merupakan tetap pemantauan kita karena memang kita mendapatkan limpahan asap dari kabupaten kota lainnya,” pungkasnya.(atr)









