okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Desa Pela memiliki ciri khas serta keunikan tersendiri sehingga memiliki banyak penghargaan. Desa yang saat ini telah ditetapkan sebagai salah satu desa wisata nasional ini terletak di Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).
Kepala Pokdarwis Desa Pela, Alimin Azarbaijan menceritakan, bahwa awal dibentuknya desa ini sebagai desa wisata hanyalah melalui diskusi bersama pemuda-pemudi asli Desa Pela. Mulanya pada tahun 2017, dirinya bersama Kades Pela, Sofian Nur dengan pemuda-pemuda Desa Pela berdiskusi tentang potensi wisata yang dimiliki desa mereka.
“Kami lihat di daerah lain seperti Jawa yang memiliki kawasan dengan pemandangan matahari terbenam di laut itu kan viral. Sedangkan kita potensinya juga ada,” ungkap Alimin beberapa waktu lalu.
Salah satu potensi Desa Pela adalah lokasinya yang berada diatas rawa. Kemudian tempat Pesut Mahakam lalu lalang di Sungai Pela. Dengan lokasi Danau Semayang seluar 13 Ribu hektar yang berada di seberangnya. Hal ini membuat matahari terbenam yang dinikmati banyak orang lebih indah.
“Kami juga mengundang komunitas wisata yang ada di Kaltim, Tenggarong dan mereka juga yang viralkan. Setelah itu kami langsung ke Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar yang pada saat itu masih dibawah arahan Sri Wahyuni. Kita diberikan arahan untuk bentuk Kelompok Sadar Wisata,” lanjut Alimin.
Setelah dibentuknya kelompok tersebut, dirinya mengaku keberadaan Desa Pela langsung membludak. Pada tahun 2018, Desa Pela direkomendasikan untuk mewakili Kukar dalam lomba Pokdarwis tingkat Provinsi Kaltim.
“Alhamdulillah kita dapat juara 3 padahal belum setahun itu. Kemudian terus kita tingkatkan lagi, tahun 2019 Bupati Kukar meresmikan Desa Pela sebagai Desa Wisata,” jelasnya.
Tidak hanya bersinergi dengan Pemkab Kukar dan Pemprov Kaltim. Pada tahun 2019, Desa Pela juga bersinergi dengan pihak akademis, yakni Politeknik Negeri Samarinda (Polnes). Untuk melakukan pendampingan desa wisata dalam lomba nasional. Bahkan menggaet juara dua diantara 200 lebih peserta akademis di seluruh Indonesia.
“Disitu promosi kita lebih meningkat lagi. Tapi sebelumnya kita juga sudah bekerjasama dengan Yayasan Konservasi Rasi dalam perlindungan Pesut Mahakam dan Lingkungan. Kemudian juga kita kerjasama langsung dengan CSR, yaitu Pt Pertamina Hulu Mahakam,” tutur Alimin.
Meskipun lokasi Desa Pela yang tidak memiliki pipa minyak. Pertamina Hulu Mahakam tertarik untuk mendukung perkembangan wisata atas kinerja lingkungan Desa Pela yang baik. Dimana warga tidak lagi membuang sampah di sungai. “Hal ini membuktikan bahwa Desa Pela merupakan desa yang ramah lingkungan, ” tuturnya.
Alimin juga menyebutkan daya tarik utama Desa Pela adalah Pesut Mahakam. Dimana dari 80% hingga 90% jika beruntung pasti bertemu, meskipun waktunya tidak tentu. Hal ini juga berpengaruh akibat kenyamanan Pesut di Pela. Yakni tidak adanya ponton batu bara, sampah maupun illegal fishing.
“Karena kita sudah buat peraturan desa tentang larangan alat tangkap nelayan yang tidak ramah lingkungan,” urainya.
Selain Pesut Mahakam, inovasi Desa Wisata Pela adalah Musium Nelayan. Yang merupakan satu-satunya di Indonesia. Musium itu sendiri menampilkan alat-alat nelayan yang ramah lingkungan dan digunakan di Desa Pela. Bahkan, ia menyebutkan saat ini pihaknya sudah gunakan digitalisasi dengan menggunakan barcode.
“Sehingga ketika tamu datang tinggal scan barcode dan sudah muncul penjelasan lengkap masing-masing alat nelayan. Ada juga informasi tentang Pesut berbahasa Indonesia dan Inggris,” urainya.
Desa wisata ini adalah hasil kolaborasi semua pihak. Tanpa terkecuali masyarakat sekitar yang juga turut diberdayakan. Diantaranya adalah pemuda-pemuda asli desa tersebut yang telah membantu mengembangkan desa wisata ini sejak mereka masih di bangku sekolah. atas dukungan masyarakat, dirinya terus membina pemuda-pemuda tersebut.
“Seperti jika ada pelatihan-pelatihan pembuatan video, promosi dia mengirimkan pemuda tersebut sehingga kini sudah memiliki sosial media sebagai wadah promosi alternatif, ” sambungnya.
Dalam jangka waktu 5 tahun hingga terakhir April lalu mendapat penghargaan peringkaf 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI.
“Desa Pela selalu gencar dalam mengembangkan desa wisata mereka. Mulai dari waktu, tenaga dan pikiran. Saat ini mengaku merasakan dampaknya secara perlahan-lahan hasilnya terasa dan sepadan dengan segala penghargaan yang diterima, “sebutnya. (atr/ob1/ef)








