okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Desa Batuah, yang terletak di Kecamatan Loa Janan kini telah bisa menikmati air bersih. Hal itu disebabkan dengan adanya Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) yang dibuat oleh swadaya masyarakat berkolaborasi dengan Perguruan tinggi swasta di Kota Samarinda dan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan.
Berkat dari inovasi tersebut, Pemerintah Desa Batuah pun terlibat dalam ajang Pekan Inovasi yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar). Dengan mempresentasikan inovasi-inovasi apa saja yang telah dicapai untuk kepentingan masyarakat/warga di Desa Batuah.
Kepala Desa (Kades) Batuah, Abdul Rasyid, mengatakan, Pamsimas Desa Batuah tidak hanya sekedar menampung air tetapi lebih kepada penggunaan teknologi. Jadi air yang sebelumnya pH rendah dan zat besinya tinggi itu bisa kembali normal dengan menggunakan sistem kerja filter.
Biayanya juga rendah, hanya sekitar Rp 4 ribu per kubik. Kalau dibandingkan dengan PDAM, Pamsimas ini pasti dibawahnya. Yang membuat perbedaannya itu selalu dilakukan pengawalan pada teknisnya. “Misalnya pengambilan sampel air per dua minggu melibatkan akademisi. Kemudian perkembangan distribusi dari RT ke RT lain itu melibatkan perusahaan, ” ungkapnya, Kamis (22/12/2022).
“Adapun sistem yang dibangun yakni kolaborasi. Dengan menggunakan sistem filter yang biayanya lebih rendah namun tetap mengedepankan kualitas yang hampir menyerupai air dari PDAM, ” sambung Rasyid.
Kalau air PDAM itu menggunakan kapur dan tawas. Sedangkan untuk Pamsimas pihaknya memastikan tidak menggunakan kapur dan tawas, akan tetapi pihaknya menggunakan karbon aktif. Dan penggunaannya cukup lama, sedangkan untuk penggunaan filter, Rasyid mengklaim filter yang digunakan dalam Pamsimas itu alamiah.
“Karena tempat filter itu menggunakan drum bekas. Harapan kita dengan cost rendah nanti angka yang kita lempar ke masyarakat juga rendah dan tidak memberatkan, ” jelasnya.
Rasyid mengungkapkan total pembiayaan pembangunan Pamsimas yang dikeluarkan untuk menyediakan air bersih bagi masyarakat Desa Batuah mencapai Rp300 juta, itu merupakan hasil dari kolaborasi antara pemerintah Desa, Perguruan tinggi asal Samarinda (Polnes) dan program CSR dari berbagai perusahaan yang beroperasi di Desa Batuah.
“Rp 300 Juta itu sudah lengkap dari sumber air, penampungan hingga mesin pendorong untuk didistribusikan. Pembiayaan kolaborasi, seperti filter melalui program pengabdian masyarakat Polnes. Kemudian pembangunan penampungannya sebagian dari desa, sebagian dari perusahaan (CSR), “beberapa Rasyid.
Hingga saat ini sebanyak enam dusun yang ada di Desa Batuah sudah mendapatkan air bersih yang dialirkan melalui Pamsimas. Tambah Rasyid, sebenarnya cakupan Pamsimas bisa lebih jauh lagi, namun pihaknya terkendala oleh biaya yang besar. “Kami ingin sekali dengan biaya yang rendah dapat memberikan pelayanan maksimal ke masyarakat, ” pungkas Rasyid. (atr/ob1/ef)








