okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Pencegahan stunting terus menjadi perhatian pemerintah pusat. Penyakit yang menyerang gizi kepada anak-anak saat ini mengalami peningkatan yang sangat tinggi di Indonesia. Hal ini disebabkan lantaran kebiasaan hidup dan pola makan masyarakat yang tidak sehat.
Sementara itu, untuk wilayah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) khususnya Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) untuk tingkat stunting mencapai angka 17% . Data tersebut berdasarkan dari Aplikasi elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) milik Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) RI. Sebanyak 86.020 keluarga beresiko stunting sejak 2021.
Berdasarkan keterangan dari Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kukar, Adinur, mengungkapkan, angka stunting di daerah sama seperti di Jawa. Akan tetapi secara survei angka gizi, daerah Kukar masin menempati nomor satu tertinggi di Kaltim, yaitu sebesar 27,7%. Kendati demikian, Kabupaten Kukar menyatakan sikap siap dalam menangani penurunan stunting.
“Mencegah lebih baik dari pada mengobati ditambah ada beberapa faktor yang juga ikut mempengaruhi banyaknya keluarga berpotensi stunting yaitu keluarga yang tidak memiliki mata pencaharian, rumah tidak layak huni, sanitasi yang kurang memadai, hingga ibu hamil pra sejahtera, ” terang Adinur.
“Mencegah itu lebih baik daripada mengobati. Dan beberapa faktor yang mempengaruhi adanya keluarga berpotensi stunting adalah kepala rumah tangga yang tidak memiliki mata pencaharian. Ada juga rumah tidak layak huni, sanitasinya tidak baik, dan juga ibu hamil yang pra sejahtera,” jelas Adinur.
Adinur menjelaskan, penanganan stunting perlu dilakukan pencegahan sejak usia dini. Tepatnya semenjak anak di bawah umur dua tahun. Mengingat pengobatan hingga kini masih sulit. Pencegahan stunting bakal berefek terhadap jangka panjang yakni keberlangsungan banga Indonesia dua hingga tiga dekade yang akan datang.
“Pentingnya pencegahan stunting ini menjadi penentu kualitas bangsa di masa yang akan datang. Yang lebih berkualitas dengan perkembangan kognitif yang lancar, ” ujarnya.
Tentunya untuk mewujudkan ini diperlukan lingkungan dan pengendalian gizi yang memadai. Salah satu strategi Pemkab Kukar menangani stunting adalah mencanangkan program Bapak dan Bunda Asuh Anak Stunting. “Ini permintaan Bupati Edi Damansyah. Ini datanya lagi dikerjakan. Kita akan coba gaet semua kepala OPD untuk menjadi bapak atau bunda asuh anak stunting. Jadi bantuannya tidak berupa uang segar, tetapi berupa makanan dengan gizi dan protein seimbang bagi ibu dari anak dibawah 2 tahun. Sayuran dan lauk berasal dari lokal dan sesuai gizi rekomendasi puskesmas,” jelas Adinur.
Saat ini, terdapat lima kecamatan dengan angka keluarga berpotensi stunting tertinggi. Diantaranya, Kecamatan Loa Kulu, Tenggarong, Tenggarong Seberang, Loa Janan dan Samboja. Untuk itu, Adinur berharap tiap pihak terkait dapat terus semangat bekerja sama mencegah stunting. “Saya juga berharap masyarakat ini bisa membantu, karena bukan untuk siapa-siapa tapi untuk masyarakat juga. Kita juga memilik Tim Pendamping Keluarga di tiap kelurahan/desa,”pungkasnya. (atr/ob1/ef)








