okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA — Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April dinilai bukan sekadar momentum seremonial belaka. Lebih dari itu, peringatan ini menjadi refleksi atas capaian sekaligus arah masa depan perempuan Indonesia di berbagai bidang strategis.
Akademisi Hukum Untag Samarinda, Khairunnisah, mengatakan semangat Kartini saat ini hidup dalam sosok perempuan yang tidak hanya memperjuangkan kesetaraan, tetapi juga menjadi penggerak utama dalam perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kehidupan sosial.
“Peringatan Hari Kartini tahun 2026 mengusung makna yang berbeda. Jika di masa lalu Kartini berjuang melalui tulisan untuk membuka pintu pendidikan bagi perempuan, maka Kartini masa kini telah melangkah jauh ke dalam pusat-pusat peradaban modern,” jelasnya pada Senin (21/4/2026).
Menurut dia, perempuan Indonesia kini menunjukkan peran strategis dalam dunia sains, riset, pendidikan, hingga inovasi teknologi. Kehadiran mereka dinilai tidak hanya memperkaya perspektif keilmuan, tetapi juga menghadirkan solusi yang lebih inklusif dan berkeadilan bagi masyarakat.
Ia mencontohkan jejak perempuan kini semakin terlihat, mulai dari laboratorium riset vaksin, pusat pengendalian bencana berbasis data, hingga pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang etis.
“Mereka adalah perempuan yang mampu menjembatani nilai-nilai kemanusiaan dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Bukan lagi sekadar hadir di ruang publik, tetapi juga memastikan bahwa teknologi yang dikembangkan tidak meninggalkan sisi empati dan keadilan,” jelasnya.
Khairunnisah menambahkan, kontribusi perempuan di berbagai sektor telah membawa dampak nyata terhadap peningkatan kualitas kehidupan, baik di tingkat keluarga, komunitas, maupun bangsa.
Mereka hadir sebagai pendidik yang membentuk karakter generasi penerus, peneliti yang menemukan terobosan baru, pemimpin yang mengambil kebijakan berpihak pada rakyat, serta agen perubahan yang bekerja untuk memecahkan berbagai persoalan sosial.
“Semangat Kartini 2026 adalah tentang aksi nyata. Perempuan tidak lagi menunggu pintu dibukakan, mereka sedang membangun gerbang peradaban baru,” tegasnya.
Ia menilai peringatan Hari Kartini tahun ini juga perlu menjadi pemantik untuk terus menghapus hambatan struktural yang masih tersisa. Sebab, perjalanan menuju kesetaraan dinilai sebagai proses berkelanjutan yang membutuhkan kolaborasi seluruh elemen bangsa.
“Refleksi Hari Kartini tahun ini menegaskan ketika perempuan maju dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, seluruh bangsa ikut melompat. Dengan demikian, tetap menyala bukan di dalam buku sejarah, tetapi dalam denyut nadi pembangunan Indonesia masa kini,” pungkasnya. (pep/bby)








