Menu ✖

Mode Gelap

Pos-pos Terbaru · 3 Mei 2026 12:55 WITA

Dari Papua ke Kukar, Pesta Babi Jadi Cermin Isu Ekologi dan Pembangunan


Suasana pemutaran film dokumenter Pesta Babi yang digelar KOPI Tenggarong di Kedai Rogoss sebagai ruang diskusi isu ekologi dan pembangunan. (Angga/okeborneo.com) Perbesar

Suasana pemutaran film dokumenter Pesta Babi yang digelar KOPI Tenggarong di Kedai Rogoss sebagai ruang diskusi isu ekologi dan pembangunan. (Angga/okeborneo.com)

okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Pemutaran film dokumenter Pesta Babi di Tenggarong tidak hanya menjadi agenda nonton bareng. Komunitas Pelem Indie (KOPI) Tenggarong menjadikan film tentang krisis ekologis dan sosial di Papua itu sebagai ruang diskusi untuk membaca ulang dampak pembangunan, termasuk bagi daerah seperti Kutai Kartanegara dan Kalimantan Timur.

Kegiatan tersebut digelar di Kedai Rogoss, Sabtu (2/5/2026) malam. Film garapan Dandhy Laksono bersama Cypri Dale itu menyoroti dampak Proyek Strategis Nasional (PSN) dan ekspansi agribisnis di Papua terhadap lingkungan serta kehidupan masyarakat lokal.

Perwakilan KOPI Tenggarong, Faruq Wijaya, mengatakan pemutaran film ini menjadi bagian dari upaya komunitasnya menghidupkan kembali ruang diskusi publik melalui film alternatif.

Menurutnya, film tidak hanya dapat menjadi medium hiburan, tetapi juga ruang untuk memahami persoalan sosial, lingkungan, dan kemanusiaan secara lebih dekat.

Faruq menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari forum-forum diskusi yang sebelumnya digelar KOPI Tenggarong untuk memperkuat ekosistem film di daerah. Dari pertemuan itu, muncul kebutuhan untuk menghadirkan ruang dialog yang lebih terbuka bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

Pemutaran Pesta Babi dipilih karena film tersebut tengah ramai diperbincangkan. KOPI Tenggarong menilai isu yang diangkat dalam film memiliki relevansi lebih luas, tidak hanya untuk Papua, tetapi juga daerah lain yang sedang menghadapi tekanan pembangunan dan perubahan ruang hidup.

Faruq menyebut, persoalan dalam film tersebut dapat menjadi bahan refleksi bagi masyarakat di Kukar dan Kaltim. Terlebih, wilayah ini juga berada dalam pusaran pembangunan besar, termasuk kehadiran Ibu Kota Nusantara dan berbagai proyek strategis lainnya.

Ia menilai publik perlu memiliki ruang untuk memahami dampak kebijakan pembangunan terhadap lingkungan dan masyarakat lokal. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya menjadi penerima kebijakan, tetapi juga mampu membaca, memahami, dan mengkritisinya secara konstruktif.

“Film ini membuka perspektif baru. Apa yang terjadi di Papua bisa menjadi cermin bagi daerah lain agar lebih siap menghadapi potensi persoalan serupa,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, KOPI Tenggarong berharap minat masyarakat terhadap film alternatif terus tumbuh. Lebih jauh, komunitas tersebut ingin menjadikan film sebagai medium literasi kritis yang mampu membuka percakapan tentang isu-isu penting di daerah.

Pemutaran Pesta Babi di Tenggarong menjadi salah satu upaya menghadirkan ruang diskusi yang lebih dekat dengan publik. Film tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi menjadi pintu masuk untuk membahas lingkungan, keadilan, dan arah pembangunan yang berdampak langsung pada masyarakat. (atr/bby)

Artikel ini telah dibaca 40 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Bupati Kukar Ajak Generasi Muda Lestarikan Tradisi Beseprah

24 September 2026 - 15:03 WITA

Beseprah Erau 2026, Bupati Kukar Ingin Tradisi Makan Bersama Lebih Dekat dengan Rakyat

24 September 2026 - 12:14 WITA

Anggota VI BPK RI Fathan Subchi Diberi Gelar Pangeran Kelana Panji Wira oleh Kesultanan Kutai

24 September 2026 - 10:45 WITA

Aulia Dukung Pengalihan PPPK Paruh Waktu, Soroti Kepastian Anggaran Gaji

23 September 2026 - 21:38 WITA

Utang Rp820 Miliar ke Bankaltimtara Lunas, Pemkab Kukar Fokus Penataan Administrasi

23 September 2026 - 21:12 WITA

Target Kunjungan Erau 2026 Naik 100 Persen, Dispar Kukar Andalkan Ragam Agenda

23 September 2026 - 17:55 WITA

Trending di Advertorial