okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA– Kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan seorang oknum pendidik di salah satu pondok pesantren (Ponpes) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Anggota DPRD Kukar, Fatlon Nisa, menegaskan bahwa tim gabungan segera melakukan skrining psikologis untuk mendeteksi dampak trauma sekaligus mencari kemungkinan adanya korban lain.
“Dalam waktu dekat ini akan kita jadwalkan skrining. Pekan ini masih ada beberapa kegiatan, namun sebelum skrining dilaksanakan akan kami informasikan terlebih dahulu,” ujar Fatlon Nisa usai mengikuti Rapat Dengar Pendapat terkait kasus tersebut.
Ia menyebutkan, hasil penyelidikan telah mengungkap bahwa pelaku merupakan anak dari pimpinan Ponpes. Meski demikian, proses hukum diserahkan kepada tim khusus.
“Dari sisi psikologis, kasus ini telah mendapat perhatian sejak 2021. Jangan sampai ada pembiaran, karena dampak traumanya bisa menular kepada anak-anak lain yang melihat, bahkan tenaga pengajar yang mengetahui kejadian tersebut,” tegasnya.
Fatlon menjelaskan, skrining tidak hanya difokuskan pada korban yang sudah teridentifikasi, tetapi juga bertujuan menelusuri indikasi korban lain. “Kami ingin memastikan tidak ada anak yang mengalami trauma berkepanjangan tanpa pendampingan. Fokus kami adalah kesehatan psikis mereka,” tambahnya.
Fatlon Nisa yang juga menjabat sebagai Sekretaris Tim Adhoc menyampaikan, upaya penanganan melibatkan sejumlah lembaga pemerintah dan organisasi keagamaan.
“Ketua Tim Adhoc berasal dari Kepala UPT DP3A, dan kami melibatkan Kemenag, Kejaksaan, Kepolisian, NU, Muhammadiyah, MUI, hingga TRC PPA,” jelasnya.
Terkait progres di Ponpes, Fatlon menyebutkan bahwa pihaknya belum melakukan inspeksi langsung. Namun, pihak Ponpes dikabarkan telah meningkatkan pengawasan terhadap santri.
“Yang dulunya pengawasan dilakukan oleh santri, sekarang dilaksanakan oleh ustadz pengajar yang sudah berkeluarga. Meski begitu, kami tetap akan melakukan sidak untuk memastikan penerapannya di lapangan,” katanya.
Fatlon juga menegaskan bahwa psikolog akan diterjunkan ke Ponpes untuk mendampingi para santri. “Kami ingin menggali indikasi lain, tapi tetap fokus pada pemulihan psikis anak-anak. Tidak mungkin korban tidak bercerita, itulah yang akan kami dalami lebih jauh,” tutupnya.(adv/dprdkukar/atr/ob1/ef)








