okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DRPD) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), melaksanakan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Asosiasi Karya Muda Mahakam (AKMM) dengan beberapa perusahaan terkait dengan peran serta lembaga usaha pertambangan dan perkebunan terhadap pengembangan dan pemberdayaan UMKM di zona ulu.
Adapun RDP dipimpin langsung ketua Komisi II DPRD Kukar, Sopan Sopian dengan didampingi anggota Komisi II DPRD Kukar, Firnadi Ikhsan, di Ruang Rapat Badan Musyawarah (Banmus) Kantor DPRD Kukar, Selasa (7/2/2023).
Ketua Komisi II DPRD Kukar, Sopan Sopian, menyebutkan, pembahasan hari ini terkait dengan Program Kukar Idaman yaitu Kredit Kukar Idaman. Dan keinginan AKMM ini agar KKI bisa hadir untuk memfasilitasi permodalan pengusaha muda untuk pengembangan usaha dan lainnya.
Tidak hanya itu, Sopan juga meminta kepada perusahaan yang berada di ring 1 tempatnya beroperasi untuk bisa memberikan kesempatan pemuda dalam meningkatkan kapasitas pelaku usaha. Dengan menggunakan dana corporate social responsibility (CSR).
“Kami meminta kepada perusahaan untuk menyasar kaula muda dengan menggunakan dana CSR,” kata Sopan.
Lebih lanjut, Sopan mengatakan, meminta kepada DiskopUKM untuk menggandeng pihak Manager Selalu Teh untuk menjadi pendamping atau narasumber untuk bisa memberikan pelatihan kepada calon pengusaha muda. “Dan mereka setuju memberikannya dengan gratis. Itu bisa dikolaborasikan dengan usaha-usaha dan program pemerintah dengan DiskopUKM tidak ada salahnya mendekati usaha yang sudah sukses. Sehingga dapat membuat branding tersendiri,” katanya.
Bahkan untuk di wilayah ulu, Sopan menyebutkan pemuda di sana cenderung memilih untuk membuka usaha semacam angkringan yang biasa ada di kota kini ada di desa. Dan mereka dinilai telah menguasai itu dengan belajar secara otodidak lewat sosial media.
“Tinggal bagaimana dikembangkan lagi. Saat ini hanya terkendala di modal, pemerintah harus memberi catatan ke DiskopUKM bagaimana anak-anak muda ini juga diikutkan dalam kesertaan modal KKI. Karena terkadang mereka malu dan malas berurusan, jadi harus difasilitasi dan dibantu membangun mental,” pungkas. (atr/ob1/ef)








