Menu

Mode Gelap

Pos-pos Terbaru · 6 Apr 2026 15:51 WITA

Produksi Terancam Turun, PHK Massal di Tambang Kukar Jadi Kekhawatiran


Aktivitas alat berat di area pertambangan batu bara. Sektor ini berpotensi terdampak jika terjadi pembatasan produksi akibat penyesuaian RKAB. (Ilustrasi/Istimewa) Perbesar

Aktivitas alat berat di area pertambangan batu bara. Sektor ini berpotensi terdampak jika terjadi pembatasan produksi akibat penyesuaian RKAB. (Ilustrasi/Istimewa)

okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Produksi tambang di Kutai Kartanegara terancam menurun. Dampaknya bukan hanya pada angka produksi, tetapi juga membuka risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di sektor yang selama ini menjadi penopang ekonomi daerah.

Isu ini mencuat seiring belum jelasnya kebijakan pemerintah pusat terkait pembatasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan tambang. Hingga kini, arah kebijakan tersebut masih dinantikan oleh berbagai pihak di daerah.

Anggota Komisi II DPRD Kukar, Hendra, mengatakan potensi PHK tidak bisa dilepaskan dari rencana pembatasan produksi tersebut.

“Untuk saat ini kami masih menunggu kejelasan dari pemerintah pusat. Karena persoalan PHK ini tidak lepas dari pembatasan RKAB yang diberlakukan,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).

Ia menjelaskan, pembatasan RKAB biasanya berkaitan dengan kondisi global, terutama fluktuasi harga energi seperti batu bara dan minyak. Situasi ini kerap menjadi dasar dalam menentukan arah produksi nasional.

Namun, di tingkat daerah, dampaknya bisa langsung terasa pada tenaga kerja. Menurut Hendra, pekerja menjadi pihak yang paling rentan jika perusahaan mulai menyesuaikan produksi.

“Karyawan yang pertama terdampak ketika perusahaan melakukan efisiensi,” katanya.

Di sisi lain, ia menyoroti belum sinkronnya sinyal kebijakan di tingkat pusat. Pernyataan terkait penurunan RKAB masih menjadi perhatian, sementara di waktu yang sama terdapat indikasi peluang peningkatan produksi seiring membaiknya harga energi global.

Kondisi tersebut membuat arah kebijakan dinilai masih dinamis dan belum sepenuhnya memberikan kepastian bagi daerah.

DPRD Kukar menyatakan akan terus memantau perkembangan ini, sekaligus mendorong pemerintah daerah menyiapkan langkah antisipatif apabila dampak negatif mulai terjadi.

“Kesiapan pemerintah daerah sangat penting untuk melindungi tenaga kerja jika dampak negatif benar-benar terjadi,” tutupnya.

Saat ini, kepastian kebijakan RKAB masih ditunggu, sementara potensi dampaknya terhadap tenaga kerja di sektor tambang mulai menjadi perhatian di tingkat daerah. (atr/bby)

Artikel ini telah dibaca 62 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pelantikan 58 Pejabat Kukar Dipercepat, Camat Diminta Gerak Cepat Tangani Karhutla dan Krisis Air

18 September 2026 - 19:39 WITA

Wujud Solidaritas Karhutla Eros Basketball Community Gelar Aksi Sosial di Simpang 4 Lembuswana

18 September 2026 - 19:02 WITA

Kabut Asap Makin Pekat, ISPU Tenggarong Tembus 210,5, Warga Mulai Keluhkan Gangguan Pernapasan

18 September 2026 - 15:09 WITA

Jelang Erau 2026, Pemkab Kukar Pantau Kualitas Udara dan Siapkan Penyesuaian

18 September 2026 - 13:25 WITA

Kecelakaan di Jembatan Martadipura, Tiga Orang Jadi Korban

17 September 2026 - 15:20 WITA

Bupati Kukar Ancam Tindak Tegas Penimbun Masker di Tengah Kabut Asap

17 September 2026 - 15:17 WITA

Trending di Home