okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Lantunan musik tradisional dan gerak tari penuh filosofi memenuhi halaman Museum Negeri Mulawarman, Sabtu (24/5/2025), dalam sebuah pagelaran seni bertajuk “Akar Budaya, Berkreasi Menuju Prestasi.” Acara ini dipersembahkan oleh Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Kalimantan Timur sebagai bentuk nyata kontribusi mereka dalam merawat dan mengenalkan kekayaan budaya bangsa.
Beragam tarian dari berbagai pelosok Nusantara ditampilkan dengan memukau, termasuk Tari Jepen yang menjadi simbol budaya Kutai. Antusiasme penonton yang memadati halaman museum menjadi bukti bahwa seni tari masih menjadi daya tarik kuat sekaligus sarana edukatif yang efektif.
Pagelaran ini bukan hanya pertunjukan seni semata, melainkan menjadi momentum strategis untuk memperkuat identitas budaya lokal di tengah arus globalisasi. Para mahasiswa ISBI Kaltim tampil total, menunjukkan dedikasi mereka dalam menghidupkan kembali semangat berkesenian di Bumi Etam.
Kepala Bidang Pembinaan SDM Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dispar Kukar, Antoni Kusbiantoro, mengapresiasi komitmen ISBI Kaltim yang telah kembali aktif sejak 2014, setelah sempat mengalami vakum selama dua tahun.
“Setelah sempat terhenti pada 2012, kami bersyukur ISBI Kaltim kini kembali aktif dan menunjukkan peran pentingnya dalam dunia seni dan budaya,” ungkap Antoni.
Ia menambahkan, ISBI Kaltim memiliki peran vital dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Kutai Kartanegara, khususnya dalam sektor tari, kriya, dan ekspresi budaya lainnya. Dispar Kukar pun menyatakan dukungan penuh terhadap berbagai aktivitas yang digagas ISBI.
“Kami ingin membangun kerja sama yang lebih erat ke depannya, khususnya dalam pengembangan SDM ekonomi kreatif yang tangguh dan berdaya saing,” ujarnya.
Menurut Antoni, keberadaan ISBI juga menjadi mitra strategis untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya daerah. Melalui pendekatan kreatif dan partisipatif, diharapkan budaya lokal semakin dikenal dan dicintai oleh masyarakat luas.
“Anak muda perlu diberi ruang untuk mengenal dan mencintai budaya daerahnya sendiri. Dari sanalah jati diri bangsa akan terus terjaga,” pungkasnya.(adv/disparkukar/atr/ob1/ef)








