Menu

Mode Gelap

Sosial · 28 Feb 2022 14:44 WIB

Sudah Lama Merdeka, Desa Teluk Muda Masih Gelap


 Sudah Lama Merdeka, Desa Teluk Muda Masih Gelap Perbesar

okeborneo.com, KENOHAN – Agustus 2022 nanti, Indonesia genap berusia 77 tahun. Namun, nyatanya masih banyak desa yang belum mendapat setrum dari perusahaan listrik negara (PLN). Di antara yang belum mendapat aliran listrik tersebut adalah Desa Teluk Muda, Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Aladin, kepala Desa Teluk Muda mengatakan, satu-satunya penerangan yang ada di desa ini adalah mesin generator set (genset) yang sebelumnya hasil dukungan dari program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM). Mesin itu sudah beroperasi sejak 2011 silam.

Namun, mesin penerangan dengan bahan bakar solar itu hanya menyala dari pukul 6 sore sampai pukul 11 malam. Hanya 5 jam beroperasi. Sementara sejak tengah malam, desa ini harus gelap gulita. Kecuali bagi warga yang punya kemampuan lebih, memiliki genset sendiri. Untuk mendapatkan layanan listrik selama 5 jam itu, warga harus membayar Rp 130 ribu per bulan.

“Ini pun sudah disubsidi dengan dana desa,” kata Aladin. Total, Rp 100 juta dana desa yang dibelanjakan setiap tahun, hanya untuk urusan genset berkapasitas 100 KVA ini. Komponen yang paling banyak menyedot keuangan adalah solar. Setiap malam, genset tersebut menghabiskan 70 liter solar.

Menurut Aladin, total ada 223 kepala keluarga di desa ini. Selain Desa Teluk Muda, desa di sekitarnya juga mengalami nasib yang sama. “Ya mudah-mudahan PLN segera masuk, supaya kami juga bisa menikmati listrik seperti mereka yang di kota,” sambungnya.

Karena tidak ada listrik, praktis sarana komunikasi di desa ini juga setali tiga uang. Sinyal telekomunikasi berharap dari sisa-sisa sinyal yang sampai desa ini. Jika pun ada, hanya bisa untuk telepon suara, tanpa bisa mengakses data internet.

Memang tidak mudah untuk mencapai desa ini. Perjalanan dari Samarinda harus memakan waktu lebih dari 3 jam. Selain itu, masih harus menyeberangi Sungai Mahakam dengan kapal feri kayu, barulah bisa sampai di desa ini. Karena tidak ada akses jembatan menuju desa, mau tidak mau warga harus memiliki perahu, atau menumpang di kapal feri dengan tarif Rp 5 ribu untuk satu kali menyeberang. (*/ob1/ef)

Artikel ini telah dibaca 25 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Gelar Diskusi Pendidikan di Samarinda. Hetifah : Kompetensi Guru Itu Hulu Dari Proses Pembelajaran

20 Mei 2024 - 20:18 WIB

Mahakam Run 2024 : Explore the Beauty of East Borneo, Gagasan Hetifah Siap Kembali Digelar Tahun ini

9 Mei 2024 - 14:09 WIB

Hetifah Tegaskan Dorong Pelibatan Masyarakat dalam Event Pariwisata di Kukar

25 Maret 2024 - 20:35 WIB

Hetifah

IM3 Hadirkan Kampanye Nyatakan Silaturahmi dengan Freedom Internet dan Pasar Ramadan IM3 di Samarinda

14 Maret 2024 - 21:47 WIB

LSP Pembicara Kompeten Kini Miliki 11 Asesor Kompeten

13 Maret 2024 - 13:01 WIB

Hadapi Ramadan, Gelar Pelita Day 2024

12 Maret 2024 - 18:35 WIB

Trending di Sosial