Menu

Mode Gelap

Advertorial · 11 Sep 2025 17:02 WITA

Vegetasi Hutan Sekunder dan Orang Utan Masih Ditemukan di Lahan Sawit Kukar


Peserta rapat komisi pembahasan AMDAL sawit mendengarkan paparan tim penyusun DLHK Kukar di Tenggarong, Kamis (11/9/2025). (Angga/okeborneo.com) Perbesar

Peserta rapat komisi pembahasan AMDAL sawit mendengarkan paparan tim penyusun DLHK Kukar di Tenggarong, Kamis (11/9/2025). (Angga/okeborneo.com)

okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Dari semak belukar, hutan sekunder, hingga sungai yang tercemar sedang, kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang dilakukan tim penyusun DLHK Kutai Kartanegara menyingkap potret ekosistem di kawasan konsesi perkebunan sawit. Hasil paparan disampaikan dalam rapat komisi pembahasan AMDAL di Kantor DLHK Kukar, Kamis (11/9/2025).

Ketua tim penyusun, Muhammad Yahya, menjelaskan bahwa lokasi studi memiliki dua tipe ekosistem. “Yakni ekosistem alami berupa semak belukar dan hutan sekunder muda, serta ekosistem buatan berupa pertanian lahan kering. Ini menjadi gambaran kondisi awal sebelum aktivitas sawit berjalan,” ujarnya.

Studi vegetasi mencatat keanekaragaman jenis pohon pada berbagai tingkat pertumbuhan. Pada tingkat pohon terdapat 13 jenis, dengan sawit, gmelina, dan sengon paling dominan. Tingkat tiang didominasi durian, gmelina, serta sawit. Pada tingkat pancang, banyak muncul laban, kenanga, dan sawit. Sementara untuk tingkat semai, yang menonjol antara lain jabon, akasia, dan kenanga.

Selain vegetasi, tim juga menemukan 14 jenis semak belukar dan sejumlah fauna darat, mulai dari serangga hingga mamalia. Sejumlah satwa berstatus dilindungi turut teridentifikasi, di antaranya rangkong gading, biawak Borneo, rusa sambar, dan orang utan.

Analisis kondisi perairan menunjukkan kualitas air di muara Sungai Etapi, Datat, dan Sebulu masuk kategori tercemar sedang hingga berat. Temuan ini muncul meski belum ada aktivitas industri sawit di kawasan tersebut. Namun, tim memastikan tidak ditemukan plankton berpotensi memicu ledakan alga berbahaya.

Sementara itu, komunitas benthos sangat terbatas. Dua muara tidak memiliki temuan, sementara di Muara Sungai Sebulu hanya ditemukan satu jenis, Melanoides sp. Inventarisasi ikan memperlihatkan dominasi spesies yang aman menurut IUCN, meski ada yang mulai terancam, yakni sidat (Anguilla bicolor).

“Hasil kajian ini menjadi pijakan penting untuk menetapkan langkah mitigasi dan pengelolaan lingkungan ke depan,” tegas Yahya. (adv/dlhkkukar/atr)

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Rahmat Dermawan Usul Pedagang Tahura Direlokasi ke Lahan Pemkab KM 50

30 April 2026 - 19:52 WITA

Pedagang Tahura

Terancam Sanksi Pidana, Warga Warung Panjang Minta Kejelasan Nasib di Tahura KM 54

30 April 2026 - 14:06 WITA

warga warung panjang

63 Pasangan di Kukar Akhirnya Dapat Legalitas Pernikahan Tanpa Biaya APBD

29 April 2026 - 20:38 WITA

legalitas pernikahan

Pedagang Tahura KM 54 Terancam Ditertibkan, Rendi Solihin Siap Pasang Badan

29 April 2026 - 09:41 WITA

Pedagang Tahura KM 54

Air PDAM Tenggarong Ditarget Lebih Deras, Kapasitas Bekotok Naik Jadi 250 Liter per Detik

28 April 2026 - 16:49 WITA

Air PDAM Tenggarong

Tembus Rawa, Jalan Baru Kukar-Kutim Mulai Dibangun Tanpa APBD

28 April 2026 - 16:38 WITA

jalan baru kukar-kutim
Trending di Pemerintahan