okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Stabilitas harga pangan tidak hanya ditentukan oleh stok beras, tetapi juga oleh ketersediaan komoditas hortikultura, terutama cabai. Fluktuasi harga cabai kerap menjadi pemicu inflasi di berbagai daerah, termasuk di Kutai Kartanegara (Kukar). Karena itu, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar menegaskan fokusnya pada pengembangan hortikultura cabai sebagai strategi pengendalian inflasi sekaligus mendukung kemandirian pangan lokal.
Plt Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Distanak Kukar, Taufik, menjelaskan bahwa sebagian besar kebutuhan cabai masyarakat Kukar sebenarnya masih dapat dipenuhi dari produksi petani lokal. “Kalau cabai yang masuk dari luar itu wajar, tetapi sebagian besar tetap dari produksi kita di Kukar,” terangnya, Selasa (23/9/2025). Hal ini menjadi bukti bahwa Kukar memiliki potensi besar dalam menopang kebutuhan cabai di wilayah sendiri.
Selain cabai, beras juga menjadi komoditas strategis. Menurut Taufik, sekitar 40 persen kebutuhan beras masyarakat Kukar dipenuhi dari produksi lokal, sementara sisanya masih dipasok dari luar daerah, termasuk Sulawesi. Kondisi ini menunjukkan adanya ruang besar bagi peningkatan produksi pertanian di sektor pangan pokok maupun hortikultura.
Cabai, lanjut Taufik, merupakan komoditas yang paling sensitif terhadap perubahan harga. Ketika pasokan menurun akibat faktor cuaca atau serangan hama, harga bisa melonjak tajam dan memicu inflasi. Karena itu, Distanak Kukar terus berupaya mendorong pengembangan cabai dengan memberikan berbagai bentuk bantuan kepada petani. Bantuan itu berupa benih unggul, pupuk, hingga sarana produksi lain yang mendukung peningkatan kualitas dan kuantitas hasil panen.
Namun, ia mengakui jumlah bantuan yang diberikan tidak selalu sama setiap tahun. Kondisi fiskal daerah, keterbatasan anggaran, dan kebutuhan prioritas lain seringkali membuat volume bantuan berfluktuasi. “Volumenya fluktuatif. Secara umum kita mengalami defisit atau efisiensi, sehingga otomatis bantuan berkurang dan dialihkan ke prioritas,” jelasnya. Meski begitu, Taufik menegaskan bahwa program pengembangan cabai tetap dipertahankan sebagai salah satu prioritas utama.
Selain pemberian bantuan, Distanak Kukar juga memperkuat pendampingan teknis kepada kelompok tani. Penyuluh di lapangan diminta aktif melakukan monitoring terhadap lahan cabai, mulai dari persiapan tanam, pemeliharaan, hingga pascapanen. Pendekatan ini diharapkan mampu mengurangi risiko gagal panen dan memastikan hasil produksi bisa stabil sepanjang tahun.
Lebih jauh, Distanak Kukar juga mendorong petani untuk menerapkan sistem budidaya yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim, termasuk penggunaan varietas cabai tahan penyakit dan ramah lingkungan. Dengan begitu, produktivitas cabai dapat lebih terjaga sekaligus mendukung upaya pengendalian inflasi secara berkelanjutan.
“Cabai ini sering jadi indikator dalam inflasi. Karena itu, kita berkomitmen menjaganya tetap tersedia di pasar dengan harga yang stabil. Kalau cabai bisa dikendalikan, pengaruhnya besar terhadap inflasi daerah,” tutup Taufik. (adv/distanakkukar/atr)








