okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Petani di Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara, menghadapi tantangan tersendiri dalam mengelola persawahan. Berbeda dengan wilayah lain, lahan sawah di daerah ini hanya bisa dipanen sekali dalam setahun karena sangat bergantung pada kondisi pasang surut Sungai Mahakam.
Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Kota Bangun dan Kota Bangun Darat, Iffan Manosa, mengatakan pola tanam di Kota Bangun sangat dipengaruhi oleh naik-turunnya air Mahakam.
“Untuk Kota Bangun agak unik, sawahnya hanya sekali panen setahun karena berada di pinggir Sungai Mahakam,” ujar Iffan, Senin, 9 September 2025.
Awal Agustus lalu, ketika memasuki musim tanam, petani justru dihadapkan pada naiknya permukaan air sungai. Akibatnya, banyak tanaman padi yang terendam, sementara lahan yang belum ditanami tak bisa digarap karena ikut terendam. “Tanaman yang sudah ditanam tenggelam, sedangkan lahan yang belum ditanam otomatis tertunda,” kata Iffan.
Adapun lahan persawahan yang terdampak pasang surut air Mahakam ini tersebar di sejumlah desa, di antaranya Desa Muhuran, Sebelimbingan, Kedang Murung, Kota Bangun Seberang, dan Oleng.
Iffan menuturkan kondisi ini membuat para petani harus menyesuaikan pola kerja setiap tahun. Meski demikian, keberadaan sawah di sepanjang Mahakam tetap menjadi andalan pangan bagi masyarakat setempat.
“Petani di Kota Bangun tetap bertahan karena hasil panen, meski sekali setahun, cukup menopang kebutuhan mereka,” ujarnya.
Ke depan, kata Iffan, perlu ada dukungan teknologi pertanian dan sistem tata air yang lebih adaptif agar petani di pinggiran Mahakam tak terus-menerus merugi akibat faktor alam.
“Kalau ada intervensi teknologi dan manajemen air, potensi sawah di Kota Bangun bisa lebih optimal,” ucapnya.(adv/distanakkukar/atr/ob1/ef)








